Jumat, 01 Juli 2011
mimpi ku
kadang pula, apa yang tak ingin kita capai malah itu yang tercapai
antara bersyukur atau tidak
antara pasrah atau tidak
mimpi
setiap orang ingin punya mimpi
dan setiap orang juga ingin mimpinya terwujud
dan aku merupakan salah satunya
berharap setiap mimpi ku akan jadi kenyataan
dan sayang Tuha berkata lain'
mimpi terbesar ku
mimpi yang selalu menghatui ku sepanjang malam
mimpi yang diperlihatkan ke aku sejak dini
mimpi itu hilang
terbang jauh dari genggaman ku
dan sadisnya mimpi aku jatuh ke sahabat aku
dialah yang berhasil mendapatkan mimpi ku
dialah orang beruntung yang berhasil membuat ku jatuh dan hancur
namun aku tak boleh memperlihatkan kekecewaan ku
Tuhan pasti punya jalan dibalik gagalnya aku
I HAVE A DREAM by Mentari
I HAVE A DREAM
Siang itu matahari terasa tidak tidak ada saat seorang gadis menginjakkan kaki di jalan raya Milan, hiruk pikuk suasana salah satu kota mode begitu membuatnya terpukau. Jejeran etalase pakaian dan toko lainya menghipnotisnya seketika. Orang-orang berbaju santai ala Italia berlalu lalang disampingnya. Gadis yang kira-kira berumur 16 tahun ini sendiri cukup keren dengan pakaiannya, rok balon selutut warna hitam, kaos bigjiil merah dilapisi jaket ripcurl berwarna hitam, sepatu convers yang berwarna merah marun membuatnya seperti layaknya orang-orang Italia.
Berjalan terus melihat panorama kota ini membuatnya tak sadar tiba disalah satu tempat yang paling ingin ia datangi, Stadion San Siro. Kandang tim favoritnya AC Milan. Matanya berbinar melihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam stadion megah itu. Apakah ada pertandingan? Pikirnya. Ketika mau berjalan seseorang memanggilnya dan membuat gadis itu menoleh kearah datangnya suara dan senyum manis diwajahnya terlihat, entah siapa yang menyuruhnya menampilkan kedua lesung pipi yang dia punya.
“Hai Sha”, sapa seorang cowok kepadanya sambil tersenyum kearah dirinya.
“Hai juga”.
“Akhirnya kita ketemu yaa, senang bertemu kamu disini”. Gadis itu tersenyum.
“Aku juga, apalagi ketemu disini, di stadion tim favorit kita”.
“Iya aku gak nyangka juga, mau nonton kan?”. Aku mengangguk. Cowok itu mengandeng tangannya lalu kami berjalan bersisihan.
Gadis ngerasa bagai di puncak menara Pisa saat ini, berjalan berdampingan dengan cowok paling keren yang pernah dia lihat apalagi mereka lagi menuju salah satu stadion terbaik di dunia, stadion San Siro dan tentunya di Negara ini, Italia. Namun anehnya ada suara seseorang yang sangat familiar ditelinganya, berteriak dan membuatnya …..
“RAISHA CLAUDIA BANGUUUUN!!!! ELO MAU SEKOLAH GAK???”, teriak Diaz. Seketika juga gadis yang dipanggil Raisha Claudia itu langsung duduk dikasur besarnya yang berwarna merah. Sedikit mengelus dada sangking kagetnya dengan teriakan kakaknya yang tersayang ini.
“Iya iya gue tau kok, sabar coba”, balas Raisha. Kak Diaz menatapnya kesal.
“Bangunin elo itu sama aja kayak bangunin sapi sapi yang habis dikasih makan, SUSAH!!!”. Raisha terkikik.
“Gue tau lagi, siapa suruh bangunin gue”. Raisha tertawa sambil mengambil handuk dan bersiap masuk kamar mandi.
“Kalau mama gak suruh sudah gue tinggal elo. Gue kasih waktu 20 menit kalo telat gue tinggal”.
“Iya bawel”. Kak Diaz meninggalkan kamar Raisha dan Raisha langsung masuk kamar mandi bersiap memulai pagi ini.
###
Udara kota Bandung memang menyegarkan pagi ini. Sha-sha itulah panggilan akrabnya. Sengaja ia minta agar kaca mobil Mazda 2 warna hitam punya kak Diaz diturunkan. Mobil keluaran baru ini baru saja dikasih papa buat kak Diaz, maklum sebagai anak cowok satu-satunya dan tertua, papa menuntut kak Diaz serba bisa. Menyetir mobil, menjaga ia dan tentunya sang mama yang gak bisa nyetir mobil.
Diaz Pamungkas, kakak cowok Sha-sha ini sekarang adalah mahasiswa teknik sipil Institut Teknologi Bandung atau ITB semester 5. Sha-sha dan kak Diaz hanya dua saudara, karenanya sesebel-sebelnya dia sama kak Diaz, dia adalah kakak paling Sha-sha sayang.
“Mimpi apalagi elo tadi pagi?”, katanya selagi lampu merah. Sha-sha menoleh kearahnya sambil tersenyum. Kak Diaz memang selalu tahu kalau Sha-sha susah dibangunin pastinya dia lagi bermimpi dinegara favorit Sha-sha, ITALIA.
“Jalan-jalan di Milan dan bersiap masuk nonton AC Milan tapi sayangnya elo bangunin gue disaat yang tidak tepat”, ucap Sha-sha sebel. Kak Diaz tertawa. Dia mengacak-acak rambut Sha-sha.
“Lain kali kalo lagi mimpi Negara elo itu tulis di jidat jadi gue gak bangunin”, katanya sambil tertawa. Sha-sha memukul pelan lengan kak Diaz sambil manyun.
“Rese”. Dan tawa kak Diaz semakin jadi saat melihat bibir Sha-sha maju sambil mengomel.
Mungkin memang aneh, Sha-sha lahir di Indonesia, Sha-sha juga besar dan kenal budaya Indonesia dengan baik. Sangat menyenangkan tinggal di Negara yang mempunyai 2 musim ini, tapi entah kenapa sejak mama membeli sebuah buku tentang salah satu Negara di Eropa Timur itu Sha-sha terpukau.
Italia, salah satu Negara besar di benua Eropa. Sha-sha menyukai segala hal dinegara berpenduduk 800 juta jiwa ini. Bangunannya, penduduknya, sejarahnya, iklimnya dan tentunya olahraganya. Setiap ada perlombaan seperti Olimpiade Sha-sha pasti melihat hasil apa yang diraih Indonesia tapi mata Sha-sha tetep saja mencari keberapa posisi Negara Italia. Sha-sha serasa jatuh hati pada Negara asal pembalap favoritnya, Valentino Rossi. Sha-sha suka Serie A, suka timnas Italia dengan Cannavaro sebagai kaptennya, suka tim Ferrari F1 yang berasal dari Negara pizza ini dan segalanya tentang Italia. Sha-sha tersenyum kecil saat membayangkan bingungnya teman-temannya saat Sha-sha bercerita betapa excitednya dia sama Negara asal spageti ini.
Sha-sha punya banyak mimpi dan ia berusaha untuk meraih mimpinya satu per satu. Dan impian terbesarnya adalah bisa bersekolah atau kuliah di Italia. Ingin rasanya Sha-sha setiap minggu pergi ke stadion San Siro untuk nonton setiap pertandingan sepak bola, mau liat gantengnya Alexander Pato dan Kaka. Membayangkannya saja Sha-sha sudha tersenyum sendiri. Apalagi mimpinya tadi malama dalah ke Stadion San Siro sama orang terganteng yang pernah ia lihat, tapi siapa dia? Otak Sha-sha muter mencari kayak apa mukanya, wajahnya cukup familiar tapi who is?
“Sampai kapan mau bengong?”, kata kak Diaz. Mendengar itu aku menoleh ke kak Diaz dan ke luar jendela.
“Eh sudah sampai hehe, gue turun kak”, salam Sha-sha.
“Makanya jangan bengong mikirin gue”.
“Ih pede banget sih”.
“Haha, sudah sana turun”.
“Iya bawel”.
“Aduh berapa kali sih elo bilangin gue bawel pagi ini”. Namun Sha-sha sudah gak balas karena dia sudah turun dari mobil Diaz. Diaz menghela napas lalu menjalankan mobilnya ke kampusnya.
###
Sha-sha melangkahkan kakinya ke sekolahnya. SMA Bunga Bangsa. Salah satu SMA swasta favorit di Bandung. Sekolah berlantai 5 ini memang membuat siapa saja yang masuk berdecak kagum. Terdapat lapangan basket, lapangan bola dan lapangan voli. Belum lagi laboraterium disini yang super lengkap hingga sebuah perpustakaan yang berlantai 2 yang membuat setiap siswa gak perlu ke toko buku karena cukup mencari di perpustakaan ini. Sha-sha tersenyum, bangga menjadi salah satu siswi di sekolah ini.
Beberapa siswa menegur Sha-sha dengan sopan, maklum Sha-sha termasuk cewek popular disini. Sha-sha tergolong cewek yang cantik, dengan rambut panjangnya serta poni miring yang manis wajah Sha-sha terlihat menawan, tingginya yang semampai serta kulitnya yang sawo matang membuat pesoninya kembali terlihat. Apalagi gelar kapten basket tim putri SMA Bunga Bangsa dan sekretaris OSIS sekolah ini cukup membuat Sha-sha popular.
“Sha-shaaaaaa….”, teriak seseorang. Sha-sha menoleh dan melihat Bianca berlari kecil kearahnya.
“Ya Ca? Kenapa?”. Bianca berupaya menjajarkan langkah kakinya dengan Sha-sha.
“Kelas mana lo?”.
“XI IPA D, elo?”.
“Wiii emang dsar pintar, kelas unggulan tuh, gue XI IPA B”.
“Masa sih? Gak tau, taun ini gak ada kelas unggulan, deket kok, cuma beda 2 kelas doing”.
Bianca adalah teman sebangku Sha-sha saat duduk dikelas X. kalau Sha-sha ikut eskul basket, Bianca adalah salah satu anggota cheers.
“Ada proker OSIS dalam bulan ini?”. Sha-sha berpikir.
“Gak ada sepertinya, kenapa?”.
“Yeees, bantuin atur pesta ulang gue dong”.
Sha-sha menepuk dahi. “Oh iyaa tanggal 19 kan?”. Vianca mengangguk.
“Okey boos”.
“Sip, gue duluan yaaa nanti kantin bareng”.
“Iyaaaa”.
Sha-sha melangkahkan kakinya kekelasnya. Namun siwa-siswa yang bermain voli ditengah lapangan voli membuatnya berhenti sementara.
Beberapa cowok sedang bermain voli, mensmash, passing dan blok. Namun hanya satu yang menarik perhatian Sha-sha. Cowok yang bajunya masih rapi masuk kedalam baju. Tinggi dengan sepatu snakers. Rambutnya agak gondrong dan kulitnya coklat. Sha-sha tersenyum.
Gladio Setiawan atau Dio, kapten tim voli SMA Bunga Bangsa. Cowok yang membuat Sha-sha sejak kelas X terkagum-kagum. Dulu mereka bertemu pertama kali saat di gudang olahraga. Sha-sha sedang mengambil beberapa bola basket, namun suara seseorang mengejutkannya sehingga bola-bolanya kembali jatuh.
“Arrggm siapa sih, bikin kaget aja”, bentak Sha-sha, ketika berbalik, sosok menjulang tinggi langsung membuat Sha-sha terkesiap.
“Eh maaf, gua gak maksud ganggu, gue kira gak ada orang, mau gue kunci soalnya untung gue denger suara orang”, katanya sambil menggaruk-garuk rambutnya. Sha-sha menatapnya.
“Mau dikunci? Astaga untung aja, gue gak habis mikir kalo gue kekunci disini”. Dia tertawa. Tawanya membuat Sha-sha merinding.
“Gue Dio, kelas XA”. Dia menjulurkan tangan. Sha-sha membalasnya.
“Sha-sha, kelas XF”.
Sejak saat itu jika bertemu Dio, Sha-sha bisa merasakan perasaan aneh menjalar aneh dalam dirinya. Dio begitu manis dan ehem entah kenapa Sha-sha suka setiap dia tertawa.
Namun tiba-tiba, sebuah bola mengarah ke dirinya, untung ada seseorang yang menangkap bola itu, kalau gak mungkin bola itu mendarat mulus di kepalanya.
“Sha, elo gak papa”. Suara itu?
Sha-sha mendongkak, bener saja, itu suara Dio!! Sha-sha menerjap. Kesadarannya kembali.
“Eh iya Yo, gue gak papa”.
“Untunglah, elo mau ke lapangan basket?”. Sha-sha menggeleng.
“Mau kekelas kok, elo kelas berapa Yo?”.
“XI IPA C, elo?”. Sha-sha meringis, kenapa gak sekelas sama gue aja, sebelahan juga.
“X IPA D, eh gue balik dulu yaa?”. Dio mengangguk. sha-sha pun segeraa menuju kelasnya. Huh ketemu aja jantung gue mau copot, apalagi sampai gimana-gimana, batin Sha-sha. Dia tiba dikelasnya, karena baru bicarA sama Dio perasaanya langusng bahagia.
“Pagi semuaaa”, sapa Sha-sha terhadap teman-temannya di kelas ini. Mereka tersenyum.
“Pagi Sha-sha, senang sekelas sama bintang basket sekolah ini”. Sha-sha tertawa hhmm lebih tepatnya tersipu dengan pujian Alvin, kapten tim sepakbola sekolah.
“Ah lo bisa aja Al, dikelas ini ada siapa aja?”, Tanya Sha-sha. Sha-sha memilih tempat duduk didepan. Maklum dia gak suka duduk dibelakang, gak enak dan tentunya ribut.
“Hm ada Monic, Steven, Alan, Chika dan hhhmm Raya”. Sha-sha menoleh cepat mendengar nama Raya disebutkan. Raya dan gue sekelas? Astaga mampus gue!! Katanya dalam hati. Kebahagiannya yang tadi ketemu Dio langsung kabur entah kenapa mendengar nama Raya disebutkan.
“Alviiin, main bola yuk, kelas C ngajak tanding tuh”, teriak seseorang dari arah depan kelas.
“Iyaa bentar”. Lalu Alvin menoleh ke gue. “Gue keluar dulu Sha”. Sha-sha hanya mengangguk pelan.
Bayangkan aja Sha-sha sekelas sama cowok terese di sekolah ini. Mungkin Sha-sha berlebihan. Tapi ya itu Sha-sha emang gak bisa bohong. Siapa yang tidak kenal Raya Pamungkas, kapten tim basket putra. Raya adalah salah satu cowok popular di sini, dia tinggi, dia cukup pintar, namun sikapnya dingin. Entah apa hukuman buat Sha-sha. Sudah cukup dia satu OSIS dengan dia, Raya ketua OSIS yang baru saja dipilih sebulan yang lalu dan Sha-sha sendiri adalah sekretaris.
Sebenarnya Sha-sha bukan benci sama Raya, tapi dia hanya gak suka sama kata-kata yang terucap dari mulut Raya saat mereka latihan suatu sore. Sha-sha sedang duduk dilapangan memerhatikan teman-temannya yang sedang main game. Ditangannya sebuah buku, buku sejarah Negara Italia. Sha-sha mendapatkan buku ini hadiah dari kak Diaz. Dan Sha-sha sangat suka.
“Mau baca buku atau mau latihan basket?”, kata seseorang dingin. Sha-sha mendongkakkan kepalanya. Menyipitkan mata melihat yang menegurnya adalah Raya.
“Gue lagi break, jadi terserah gue mau baca buku atau gak”, balas Sha-sha gak kalah dingin.
“Buku apa sih yang elo baca? Alah paling buku gak jelas”, ucap Raya sambil mengambil buku itu dari Sha-sha dan membaca sampulnya. Sha-sha sontak berdiri. Dia menatap Raya dengan pandangan marah.
“Kembalikan buku gue”, katanya pelan tapi dengan penuh penekanan.
“Sejarah Italia? Haha elo suka pelajaran sejarah? Pantes otak lo gak maju-maju, sejarah masa lampau dan elo hidup dimasa milinium”, ejek Raya. Sha-sha mencoba menahan amarahnya.
“Gue gak butuh pendapat elo, kembalikan buku gue sekarang!!”, bentaknya. Raya tersenyum puas.
“Italia atau basket?”. Ucapan Raya membuat Sha-sha melotot. Pertanyaan yang membuat Sha-sha diam seribu bahasa, pertanyaan yang entah membuat lidahnya kelu. Sha-sha melihat Raya menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
“Kalo pun gue jawab, itu gak ada hubungannya sama elo”, jawab Sha-sha ketus. Dia mengambil buku sejarahnya dari tangan Raya dan memasukkannya ke tasnya. Lalu Sha-sha mengambil bola basketnya dan kembali berlatih. Emosi dalam diri membuat Sha-sha main berantakan, dalam games kali ini dia kalah, coach Dimas sempat kaget mengingat Sha-sha merupakan pemain hebat. Ketika disuruh push up 30 kali akibat kalah, Sha-sha melakukannya dengan emosi yang masih full dalam dirinya. Apalagi ia sempat kontak mata dengan Raya. Semenjak itu, keduanya gak pernah bicara, cuma sesekali, itu cuma soal basket dan OSIS.
Lamunan Sha-sha bunyar mendengar suara dehaman seseorang. Sha-sha mendongkak dan menemukan Raya berdiri menjulang menatapnya kesal.
“Apa?”.
“Gue mau lewat”, katanya ketus. Sha-sha menghela napas.
“Lewat ya lewat aja, gak usah ganggu orang”.
“Elo bego? Gimana mau lewat kalau kaki elo ngehalangin gue”. Sha-sha menatap kakinya. Memang kakinya menutupi jalan, tapi bukannya Raya bisa melompatinya? Oh apa dia pengen cari gara-gara sama gue pagi gini? Batin Sha-sha.
“Elo bisa lompat, apa susahnya sih”. Sha-sha menarik kakinya.
“Gue gak mau utang darah sama elo”. Sha-sha melongo mendengar ucapan. Sementara itu teman sebangkunya, Desy menyenggol lengannya sambil terkikik.
“Elo kenapa lagi?”.
“Raya ganteng yaa”, ucap Desy sambil melihat Raya duduk di deretan belakang dengan pandangan kagum. Sha-sha mendelik.
“Elo suka?”.
“Cuma cewek buta yang gak suka sama Raya”.
“Hah? Maksud lo gue buta gitu?”.
“Iya sepertinya”.
“Sial lo”.
“Habis elo sama dia satu OSIS terus sama-sama anak basket, tapi kayak anjing dan kucing! Tapi kok Raya ngeliatin elo sih dari tadi?”.
“So?”.
“Mungkin Raya naksir sama elo”. Mendengar ucapan Desy jelas Sha-sha terbatuk-batuk. Bagaimana mungkin orang sedingin itu bisa naksir dirinya yang jelas-jelas benci sama dia?
“Sinting”, balas Sha-sha. Desy cuma mengangkat bahu. Lalu mereka sibuk dengan pelajaran kelas XI yang baru.
###
Sha-sha merapikan beberapa proposal di ruang OSIS. Seperti biasa setiap pulang sekolah dia selalu harus mempersiapkan proposal setiap eskul di sekolah ini. Maklum sebagai pengurus baru, Sha-sha dan anak OSIS lainnya, Sha-sha harus merekap setiap eskul dan mendata anggota masing-masing eskul, jadi seandainya ada eskul yang terbengkalai, mereka bisa memutuskan.
“Sha, paskib gimana?”, Tanya Vira.
“Pemilihan ketuanya minggu depan, mereka sih mau pinjam lingkungan sekolah buat tes gitu”.
“Oh oke, semua eskul sudah ngumpul proposal?”.
“Ada yang belum, voli, taekwondo sama paduan suara”.
“Ya udah deh, entar hubungi gue aja yaa”.
“Okey Vir, mau balik sekarang?”.
“Iya eh, soalnya gue bawa mobil sendiri”.
“Oke hati-hati yaa”.
Sha-sha membaca beberapa proposal dengan serius, mencatat beberapa hal penting yang akan dikasih tau ke Fikry sebagai Wakil Ketua OSIS disini. Jangan tanya kenapa gak ke Raya, karena jawaban Sha-sha pasti : MALES!!
Lagi asyik membaca, terdengar suara dehaman seseorang.
“Ehem..”. Sha-sha tergolak kaget. Dia menoleh dan betapa kagetnya saat dihadapannya kini adalah DIO.
“Eh… hey Di.. Dio”, ucap gagap Sha-sha. Dio tertawa. Aduh ketawanya, batin Sha-sha.
“Kenapa? Kaget? Sorry yaa Sha”.
“Eh gak papa kok Yo, ada apa?”, kata Sha-sha setelah mengatasi rasa canggungnya.
“Lah kan harus ngumpul proposal eskul, gak mau nih?”, goda Dio. Wajah Sha-sha bersemu merah.
“Eh gue lupa hehe, mana sini gue baca dulu?’. Dio menyodorkan propsalnya. Sha-sha menerima dan membacanya.
Waktu cukup hening selagi Sha-sha membaca proposal, Dio mengamatinya. Gadis yang lucu, manis dan jago basket. Dio gak bisa bohong kalau dirinya juga jatuh hati pada Sha-sha, gak cuma dia tapi hampir beberapa teman angkatan mereka. Sha-sha yang manis, Sha-sha yang jago basket dan bla bla bla
Tapi gak sembarang orang ternyata bisa mengambil hati kapten tim basket putri ini. Dio ingat ada 4 temannya yang nekat nembak Sha-sha pas kelas X dan hasilnya? Ditolak semua.
Sifat Sha-sha memang gak bisa ditebak. Kadang begitu manis seperti sekarang ini tapi sifatnya langsung berubah 180 derajat saat dia berada di lapangan basket. Dengan jersey putih, warna andalan SMA Bunga Bangsa, Sha-sha mampu memikat dengan sempurna setiap orang yang melihat permainan basketnya.
“Yo?”, suara Sha-sha mengagetkan Dio.
“Ya? Ada kesalahan ya?”. Dio tahu Sha-sha anaknya teliti makanya gak heran salah sedikit di proposal dia bisa tahu.
“Iya, ada di bagian jadwal kalian”. Ucapan Sha-sha membuat Dio maju, lalu dia duduk di sebelah Sha-sha. Sedikit dekat, apalagi Dio mencondongkan mukanya.
Sha-sha terkesiap melihat reaksi Dio, gak nyangka dia bakal memilih duduk disampingnya bukan dihadapannya.
“Emang jadwal kami kenapa?’, Tanya Dio, dia mendongkak menatap Sha-sha. Dengan jarak sedekat ini Dio bisa melihat dengan jelas wajah Sha-sha, manis dan wow matanya Sha-sha yang berwarna coklat jernih langsung memikatnya.
Sha-sha yang sadar langsung salting total. Dia membuang muka menghadap pintu.
“Eh sorry Sha”, kata Dio, dia juga salting.
“Gak papa kok”.
“Eh tadi yang salah yang mana?”. Sha-sha langsung sadar, aduh gue kenapa, katanya dalam hati.
“Ini jadwal kalian bentrok sama basket”, kata Sha-sha. Dio menggaruk kepalanya yang gak gatal. Sebenarnya dia sengaja ngebuat jadwal yang sama antara basket dan voli, ya supaya apalagi kalau untuk ketemu sering sama Sha-sha.
“Eh itu, soalnya itu persetujuan anak-anak”, kata Dio cari alasan. Sha-sha memutar bola mata.
“Sudah ngomong sama Fikry atau Raya?”. Dio menggeleng.
“Emang kenapa?”.
“Gini, kemarin pas rapat, Raya bilang setiap hari harus ada eskul yang latihan, jangan sampai ada yang barengan gitu”.
“Ayolaah, masa Raya gitu sih? Nanti gue bujuk deh”.
“Bener elo mau bujuk Raya?”. Dio mengangguk mantap. Sha-sha menghela napas. “Kenapa emang Sha?”.
“Haha gue males sama dia”.
“Oh iyaya, gua sempet denger dari anak-anak elo sama Raya jarang teguran, bener itu?”. Sha-sha mengangguk. “Kok?”.
“Habis dia cowo terese didunia ini, males gue”.
“Haha astaga mana kalian satu OSIS sama basket lagi”.
“Loh, kok kata-kata mu sama kayak Desy sih?”.
“Kebetulan”.
Dan obrolan mereka berlanjut. Tentang hobby, tentang basket, voli, mereka seperti nyambung satu sama lain. Tertawa, lucunya Dio ternyata bisa ngejayus juga. Dan sore itu semakin indah ketika Dio menawarkan mengantar Sha-sha pulang, Nolak? Jelas gak!! Rugi kata Sha-sha dalam hati.
###
Tugas sebegai kelas XI ternyata jauh lebih berat. Apalagi jurusan IPA. Namun setahuan di OSIS membuat Sha-sha tahu cara membagi waktu dengan baik, gimana penting mendesak, tidak penting mendesak, penting tidka mendesak dan tidak penting tidak mendesak. Begitu banyak pelajaran yang Sha-sha dapat di OSIS membuat ia bisa menghandle waktu.
“Arrgg gila tugas apa ini?”, erang Monic. Sha-sha tertawa pelan.
“Tugas bokap lo Mon, pak Mus”, canda Sha-sha.
“Heloo Raisha yang cantik sejak kapan guru sejarah itu bokap gue hah? Ih amit-amit deh”. Yang lain tertawa liat miss cerewet kayak Monic. Tapi langsung hening karena seseorang yang bersimbah keringat masuk kelas. Mereka menoleh. Dan Sha-sha langsung mendengus. Beda dengan teman-temannya yang menatap kagum sosok menjulang tinggi ini.
“Sudah neggosipnya? Ada pak Must uh”, kata Raya dingin. Sontak aja temen-temen sekelas langsung ngacir ketempat duduk masing-masing.
“Kalo tau ada pak Mus kenapa elo sendiri santai?”, Tanya Sha-sha. Soalnya Raya masih berdiri santai didepan pintu, padahal pal Mus paling gak suka ada muri yang masih berdiri dan pasti akan mendapat tugas mingguan 2 kali lipat.
“Suka suka gue dong, toh nanti yang dihukum juga gue kan?”, ucap dingin Raya. Jelas Sha-sha jengkel.
Pas mau kembali adu mulut sama Raya, suara berat nan tegas langsung membuat nyali Sha-sha ciut, pas Mus berdiri tepat dibelakang Raya”.
“Assalamualaikum…”.
“Walaikumsalam paaak..”.
“Raya, kamu dipanggil pak kepala sekolah sekarang!”.
“Baik pak”. Raya langsun keluar.
Sha-sha menatap sebal, pantes dia santai ternyata dia tahu mau dipanggil, sial, ucap Sha-sha dalam hati.
###
Sha-sha turun dari mobil Desy. Gak cuma dia Felisa sama Nia juga. Mereka berempat sekarang ada didepan rumah Sha-sha. Kebetulan mereka jadi satu kelompok dalam tugas persentasi sejarah pak Mus. Karena rumah Sha-sha searah sama mereka semua dan kalau siang gak ada orang, makanya mereka semua setuju kesini.
“Bonyok elo mana Sha?”, Tanya Felisa.
“Bokap masih dikantor, nyokap dirumah sakit lah”.
“Oh gue luap nyokap lo dokter, kaka lo masih kuliah?”.
“Yups! Ayo masuk”.
Mereka berempat masuk kedalam rumah Sha-sha. Rumah ini tergolong rumah minimalis, maklum rumah Sha-sha ini di baru dihuni sekitar 3 bulan yang lalu. Mereka naik ke lantai 2, tempat lkamar Sha-sha. Sha-sha menyuruh Desy cs naik duluan sementara dia membuat minuman.
Mudah untuk menemukan kamar Sha-sha, karena dilantai atas hanya ada 2 kamar dan disalah satu pintu terdapat tulisan :
Sha-sha room’s
Mereka masuk dan cukup terpukau dengan kamar Sha-sha. Kamar ini gak begitu luas, hanya 6x6 m saja. Tapi kamar ini begitu cantik dan manis, seperti yang punya kamar. Sha-sha yang sangat suka warna merah jelas saja dominasi warna merah disini terlihat. Dari cat dinding warna merah marun, kasur dengan seprai warna merah marun gambar bunga mawar merah serta meja belajar dan lemari pakaian yang didominasi warna merah. Bahkan karpet aja warna merah.
Desy, Felisa dan Nia Cuma bengong didepan pintu, sampai Sha-sha naik.
“Loh kok gak masuk?”.
“Buseeeet Sha, kamar elo, meraah semua”. Sha-sha tertawa. Ketika Sha-sha masuk baru deh mereka mask dan langsung duduk lesehan dibawah.
“Maniak banget sih lo dengan warna merah”.
“Emang, baru tau yeee?”. Felisa mengangguk.
“Kan pas kelas X gue gak sekelas sama elo, cuma baru kelas XI ini doang”.
“Haha gue lupa Fel, eh ini minum dulu”. Mereka pun minum dengan lahapnya. Maklum jam segini Bandung panas untung kamar Sha-sha ber AC kalau gak yaa mereka akan jadi manusia purba.
Felisa melihat-lihat kamar Sha-sha. Dia berbalik dan menemukan lemari pakaian dan lemari kaca milik Sha-sha. Felisa terkesiap, antara kagum dan wow.
Lemari kaca itu terdiri atas 5 tingkat. Di tingkat pertama ada sebuah miniature 2 dari 7 keajaiban dunia, Menara Pisa dan Collaseum. Tersusun rapi diantara motor mini Ducati Mallbroro dengan Valentino Rossi diatasnya serta mobil balap mini dengan Ferrari sebagai miliknya. Sebuah bendera Negara salah satu pemilik sepakbola terbaik di dunia, Italia. Ditingkat 1 bisa dilihat beberapa macam hal soal Italia, ada kaos timnas Italia dengan nama Totti yang bernomor punggung 10, kaos AC Milan dengan nama Kaka serta sebuah topi sulap dengan warna Negara spaggeti ini.
Sha-sha melirik Felisa yang berjalan menuju lemari kacanya. Sha-sha tersenyum simpul, entah berapa orang yang terpukau dengan lemari kacanya.
“Idola mu semua ini Sha?”, Tanya Felisa. Sha-sha mengangguk.
“Iya Fel”.
“Tingkat 1 serba Italia, tingkat 2 basket, tingkat 3 warna merah semua, tingkat 4 d”masiv dan terakhir yang kelima kumpulan foto, wow, cuma bisa bilang wow gue”, kata Felisa. Sha-sha tertawa. Diikuti Desy dan Nia.
###
“Sha, Sha-sha”, panggil seseorang. Sha-sha yang sedang berada di lapangan basket karena sedang berlatih untuk pertandingan DBL tahun ini. Dan Sha-sha bisa melihat Savira, bendahara OSIS menghampirinya. Dia membawa beberapa kertas ditangannya. Sha-sha menaruh bola basketnya dan berjalan menghampiri Vira. Tanpa Sha-sha sadari, sepasang mata tajam tengah menatapnya lekat-lekat, entah apa arti tatapan itu, namun disekolah ini cuma satu orang yang punya tatapan itu, Raya!
“Iya Vir? Kenapa?”. Vira tersenyum, tiba-tiba Vira langsung memeluk Sha-sha.
“Sha-shaaaaaa, kita lolos babak ketiga AFS”. Mendengar ucapan Vira jelas Sha-sha memekik girang.
“Serius Vir?”. Vira melepas pelukannya. Dia mengangguk dan saat itu Sha-sha merasa mimpinya semakin dekat menuju Negara favoritnya, Italia. Senyum diwajahnya semakin terlihat.
Ketika kelas X lalu, Sha-sha dan beberapa teman-temannya mengikuti AFS. AFS atau American Field Service adalah pertukaran pelajar keluar negeri. Di sponsori oleh salah satu provider terkenal di Indonesia. AFS akan mengirim beberapa siswa setiap tahunnya keluar negeri, entah ke Amerika, Negara Eropa dan Jepang. Tahun lalu, kakak kelas Sha-sha di OSIS, yang bernama Irvan lolos dan awal tahun ajaran baru ini dia berangkat ke Amerika. Irvan satu-satunya wakil SMA Bunga Bangsa. Kalo dua tahun yang lalu SMA Bunga Bangsa mengirim 3 orang, 1 ke Belgia dan 2nya ke Amerika, ketiganya perempuan.
Selama setahun kita akan berada dinegara yang kita pilih seandainya lolos, kita akan tinggal dengan orang tua asus otomatis pendidikan kita akan berhenti sementara. Jadi misalkan Sha-sha dan Vira lolos mereka akan berangkat pada bulan Juli atau awal tahun ajaran baru dan akan kembali pada tahun ajaran baru tahun depannya, jadi ketika mereka kembali, mereka akan tetep kelas XII, istilah gak naik kelaslah tapi yang ini karena sesuatu yang membanggakan.
Sha-sha sangat senang sekolahnya masuk dalam sekolah yang bisa mengikuti tes AFS ini. Pikirannya akan lolos dan bisa tinggal setahun di Italia membuatnya sangat bersemangat. Sha-sha memang menulis Italia di kolom Negara yang ingin ia datangi. Dan sekarang peluang itu semakin besar. Dia lolos tahap kedua dan kini bersiap dengan tahap ketiga! Sha-sha memekik girang. Setelah Vita mengabarkan berita ini dia bersemangat dalam latihan basket sore ini.
Karena mood Sha-sha sangat bagus, dia sampai gak sadar bahwa Raya terus memerhatikannya. Raya mendribel bola mendekati Sha-sha yang sedang menshooting bola.
“Vira ngomong tentang OSIS sama elo?, Tanya Raya. Sha-sha menoleh. Dia menggeleng. Tapi tetep melanjutkan latihannya dengan senyum manis.
“Terus? Kok elo senang banget hari ini? Padahal hari sedang panas banget”. Sha-sha berhenti melempar bola. Ia berbalik menatap Raya, senyum masih ada di wajahnya, membuatnya kian cantik dengan balutan baju basket Bunga Bangsa. Raya cukup tertegun.
“Gue lolos ke tahap ketiga AFS”, ucapnya. Raya mengerti sekarang. Seperti Sha-sha, Raya juga ikut tes itu ketika kelas X tapi dia gagal di tahap 1.
“Oh ya? Selamat yaaa, Negara mana yang mau elo tuju?”. Senyum di wajah Sha-sha semakin terlihat kian cantik.
“Italia”, jawabnya dengan tenang walau gemuruh dihatinya sedang meletus. Dia sangat bahagia, dia bahagia karena sedikit lagi dia bisa kenegara pizza itu. Raya cuma memerhatikan kebahagian Sha-sha. Jadi dia suka banget sama Italia, guman Raya pelan.
###
SMA merupakan masa yang paling indah setiap remaja didunia. Di saat SMA saatnya cinta mulai tumbuh, persahabatan yang kuat serta sikap yang mulai dewasa. Banyak prang yang mengatakan masa SMA adalah masa yang tak akan terlupakan, masa yang bisa membuat dunia terasa indah, memabukkan tapi menyenangkan.
Sha-sha tahu itu, sangat jelas dimata coklatnya ia tahu bagaimana bahagiannya dia saat masa SMA, bertemu teman baru, suasana baru dan tentunya kekompakkan. Sha-sha tidka bisa membayangkan dirinya di masa SMA tanoa ikut OSIS atau basket. Pasti membosankan. Bagaimana tidak, Sha-sha harus datang jam 7 pagi dan pulang pukul 3 sore, gak ada sensasinya.
Ikut OSIS memberi pelajaran sendiri kepasa Sha-sha, belajar berorganisasi, belahar menhandle suatu acara sekolah, berperan senagai kaki kanan sekolah dan tentunya menambah wawasan. OSIS SMA Bunga Bangsa memang menjadi satu-satunya organisasi yang dipercaya sekolah, segala urusan yang ribet, OSIS diberi tanggung jawab untuk mengerjakannya.
Tahun ini seperti biasa, OSIS diberi tungas dari sekolah untung merayakan ulang tahun SMA Bunga Bangsa yang ke 28 tahun. Raya sebagai ketua OSIS sibuk rapat dengan kepala sekolah dan Pembina OSIS. Otomatis beberapa eskul di Bunga Bangsa berhenti latihan karena lingkungan sekolah akan digunakan dalam acara ultah tahun ini.
“Tahun ini kita akan buat gebrakan yang lebih disbanding tahun lalu”, kata Raya ketika rapat. Beberapa pengurus OSIS mengeryit bingung. Vira bertanya.
“Maksudnya Ray? Kita akan buat lomba seperti biasa kan?”, katanya. Maklum dana dari sekolah hanya 50 juta, jadi jika acara yang dimaksud Raya membutuhkan dana diatas itu tentu mereka membutuhkan sponsor dan ini baru pertama kali.
“Iya tapi ditambah”.
‘Tambah apa?”, Tanya Sha-sha penasaran, Raya memang seorang yang perfeksionis, dengan sikap dinginnya dan pemikirannya yang luas jadinya OSIS angkatan mereka sudah lebih bagus ketimbang tahun lalu walau ini baru setengah jalan.
“Kita tetep akan melaksanakan lomba kebersihan kelas, madding,dan tentunya festival band setiap tahunnya, tapi jika tahun lalu hanya diikuti oleh intern Bunga Bangsa sendiri, maka tahun ini kita akan mengadakannya secara ekstren, jadi ada band intern SMA Bunga Bangsa akan bersaingan dengan band dari luar”.
“Terus?”.
Raya tersenyum. “Festival akan diikuti juga oleh sekolah-sekolah lain, jadi kita akan buka pendaftaran untuk seluruh sekolah di Bandung, dan pak Dayat juga minta agar perlombaan ditambah satu lagi tapi secara ekstren juga”.
“Apa itu?”, Tanya Revan.
“Fotografi”, ucap Raya singkat dan habis itu dia memberitahukan idenya dan hampir semua panitia setuju.
Ulang tahun SMA Bunga Bangsa, salah satu sekolah swasta favorit di Bandung memang sedang menjadi topic yang hangat dibicarakan di seluruh sekolah di Bandung. Beberapa pamflet tersebar di beberapa tempat yang menjadi tongkrongan anak remaja Bandung.
Raya sepertinya sudah punya ide untuk pesta ulang tahun sekolah ini. Dia sudah menyiapkan beberapa plan jika rencanannya tidka berhasil tapi ternyata kerja Raya dan panitia yang lain membuahkan hasil. Beberapa band dari sekolah-sekolah di Bandung sudah mulai mendaftar, dan setengah persiapan pun sudah fix. Tinggal menunggu 3 hari lagi karena acara akan dimulai.
Kesibukannya di OSIS menjadi sekretaris membuat Sha-sha sepertinya lupa akan segala hal. Dia ingin OSIS angkatannya bisa lebih baik ketimbang angkatan diatasnya dan dia juga ingin segalanya berakhir manis pada selesainya acara ini. Sha-sha sedang sibuk di ruang OSIS, dia akan mengeprint berbagai surat undangan untuk mengundang setiap perwakilan pada acara pembukaan nanti.
“Hey Sha”. Sebuah suara mengagetkan Sha-sha, dia mendongkak. Dan Dio berdiri didepan pintu ruang OSIS.
“Hai Yo, masuk”. Dio berjalan masuk, mendekati Sha-sha yang sedang mengetik.
“Sibuk?”. Sha-sha mengangguk.
“Sudah makan?”. Sha-sha berpikir sejenak. Aduh kapan gue makan ya? Batinnya. Sha-sha mengangguk bohong. Namun sayang, perut Sha-sha berbunyi, tanda ia belum makan. Sha-sha menepuk perutnya, malu. Sementara Dio tertawa.
“Bohong lagi, sudah tau sibuk, harusnya elo makan”, saran Dio.
“Suratnya belum selesai Yo, bentar lagi”. Dio melirik jam, jam 11 siang.
“Sudah sarapan?”. Sha-sha menggeleng.
“Astaga Sha, sekarang mau jam makan siang, sarapan aja belum”. Sha-sha meringis.
“Gue sibuk”. Dio menggeleng. Lalu dia menarik tangan Sha-sha dari keyboard laptop OSIS dan menariknya berdiri.
“Dio, apa-apain sih? Gue sibuk nih”, katanya kesal. Dia gak mendengarkan. Dia tetap menarik Sha-sha keluar ruang OSIS menuju kantin.
Tentu saja adegan Dio memegang tangan Sha-sha menjadi tontonan menarik siswa-siswi SMA Bunga Bangsa, apalagi di lapangan panitia cowok sedang berkumpul mendirikan panggung. Sha-sha hanya menunduk, malu soalnya Dio kan salah satu cowok popular di sekolah ini.
Dio menggiring Sha-sha ke kantin dan memesankan sebuah soto.
“Makan Sha”, perintah Dio. Sha-sha mengangguk setuju. Dan dia pun makan. Dio hanya memandangi wajah Sha-sha. Dio menyukai Sha-sha dan secepatnya ingin gadis manis didepannya ini menjadi kekasihnya. Dio tersenyum kejutan apa yang akan diberikannya kepada Sha-sha.
###
Venesia teteplah indah walau seseorang sudah berpuluh-puluh kali kesana. Dengan rsitektur megah dan menampilkan beberapa bangunan yang ada di dunia, Venesia tetap memukau. Duduk di perahu kecil dan melihat-lihat bagian dari Venesia adalah suatu hal yang menakjubkan. Tak terkecuali bagi Sha-sha. Gadis manis berbintang Capricron ini begitu terpukau dengan keindahan kota ini. Baginya bisa berada disini adalah suatu mukzizat dari yang Maha Kuasa kepadanya.
Sha-sha melangkahkan kakinya disepanjang jalan kota Venesia, beberapa oulet-oulet ia masuki untuk membeli oleh-oleh untuk papanya, mamanya, kak diaz dan teman-temannya. Dan janganlah pernah protes karena semua barang-barang yang ia beli berwarna merah.
Setelah cukup berbelanja, ia duduk disalah satu kursi, namun ketika akan duduk sebuah tangan menyentuh bahunya, Sha-sha menoleh. Dan disanalah ia, cowok yang dulu pernah mengajaknya nonton pertandingan AC Milan. Sha-sha tersenyum.
“Hai, nice to meet you again”, sapa cowok itu.
“Nice to meet you too, sendirian?”. Sha-sha mengangguk.
“Mau bareng gue?”. Sha-sha tersenyum.
“Boleh, ayok”. Sha-sha dan cowok itu berjalan bersisihan dan berbincang hal yang menarik, dari wisata di Italia, sejarahnya dan banyak hal, pengetahuan Sha-sha sudah bisa dibilang memukau cowok itu.
“Dari cerita elo sepertinya ada yang kelupaan deh”, katanya. Cowok itu menoleh, dahi Sha-sha mengeryit.
“Apaan?”. Sha-sha mencoba berpikir. Otaknya yang telah diasah dalam berbagai olimpiade kembali harus dicoba untuk mengingtakan apa yang ia pula. Dan ia menyerah.
“Nyerah, apaan emang?”. Sha-sha menatap mata cowok itu. Hitam bersinar dan teduh. Mata yang indah.
“Sebagai pecinta Italia dan suka olahraga seharusnya elo sekarang berada di circuit Muggelo dan menonton pertandingan Rossi elo yang tercinta itu”. Dan Sha-sha baru sadar!!. Bukannya ia kesini karena ada pertandingan MotoGp di Muggelo? Astaga dia harus kesana atau ia tidka akan pernah menonton secara live Valentino Rossinya berduel secara langsung!! Batinnya.
“Astaga!! Gue lupa, aduh gimana? Gue harus gimana sekarang?”, katanya panic.
“Tenang, bareng gue mau? Sekarang baru kelas Moto2 juga, sempet kalo gue ngebut”. Tak ada pilihan lain, Sha-sha segera naik motor ninja hitam milik cowok itu.
“Pegangan”. Sha-sha merapatkan pegangannya dan motor itu melaju kencang menuju salah satu circuit terbaik di Negara Pisa itu, circui Mugello Italia.
Deru suara motor menghipnotis setiap mata yang memandang. Puluhan motor balap kelas MotoGp baru akan melakukan warp up lap. Namun mata gadis manis yang bermantel merah itu hanya tertuju pada sebuah motor. Motor yang berada di grid terdepan berwarna dominan warna favoritnya, merah. Dan pembalap tuan rumah yang menjadi unggulan utama disini menatap ketribun penonton, menatap kearah tribunnya. Mata gadis itu berbinar-binar.
“Rossiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”, teriaknya. Tak diperdulikannya orang-orang disekitarnya. Juga cowok tampan yang berada disebelahkan dan seakan mendengar teriakanya, sang pembalap melambaikan tangan. Gadis itu semakin histeris.
“Aaahhh Rossiiiiiiiii, good luck yaaaaaaaaaaaaa”, teriaknya.
Dan semua pembalap bersiap-siap dan lampu hijau, pertandingan dimulai!!
Mata Sha-sha tak henti-hentinya menatap 2 motor balap itu yang sedang beradu. Rider favoritnya Valentino Rossi sedang saling menyalip dengan bintang Yamaha, Jorge Lorenzo. Deru motor Ducati merah nomor 46 milik Rossi terus memimpin sedangkan Yamaha nomor 1 milik Lorenzo menguntit diurutan kedua. Kedua motor itu saling balap.
Sha-sha tidak bisa mengedarkan matanya, layar besar didepannya menghipnotisnya, apalagi ketiga kedua motor balap itu melaju di trek dihadapannya. Sekarang, Sha-sha ada di circuit Muggelo, Italia. Menonton secara langsung pertandingan MotoGp ini dengan antusias yang tinggi. Sha-sha merasakan adrenalinnya mencuat ketika orang-orang disekitarnya histeris melihat aksi tingkat tinggi yang diperlihatkan Rossi dan Lorenzo. Sha-sha bahkan terus terusan berteriak.
“Rossi c’mon ayooooo, lets go Valeeee…..”, teriaknya lagi. Cowok disebelahnya tersenyum.
“Rossi pasti menang”, katanya. Sha-sha menoleh.
“Amiiin..”. lalu kembali fokus nonton. Last lap, jerit Sha-sha dalam hati.
Sha-sha berdoa agar Rossi lah yang menang karena tentunya itu adalah kado terbaik saat ia berada disini. Dan sepertinya menerima doanya, Valentino Rossi menggas motor Ducatinya lebih cepat daripada Lorenzo dan buuzzzz!!!
Motor nomor 46 itu melewati garis finis pertama. Sha-sha melompat kesenangan, dia berteriak-teriak menandakan ia sangat senang dengan kemenangan Rossi ini dan seperti dirinya ratusan penduduk Rossi yang diberi nama Rossifumi pun larut dama euphoria. Rossi sendiri tampak bahagia, ia melambaikan tangganya pada semua orang yang memberinya semangat. Dia berdiri dari atas motor dan membungkuk kepada para supporternya.
Sha-sha tertawa lepas dan seperti tidak sadar, ia memeluk cowok yang sedari tadi bersamanya. Karena terlalu gembira sampai tidak sadar cowok itu terus menatapnya. Menyaksikan kehebatan sang idola langsung dinegaranya sendiri tentu adalah salah satu impiannya dan sekarang impiannya …..
“Sha, elo dengerin gue?”. Suara seseorang menghentakkan lamunan Sha-sha. Sha-sha mngucek-ngucek mata. Lalu dia mendongkak dan melihat Dika manatapnya sebal.
“Apa Dik?”.
“Astaga kita bentar lagi tampil Sha, eh elo ngelamun, tadi gue ngasih arahan buat dipanggung”. Sha-sha mengangguk-angguk.
“Ngelamun apa lo?”, Tanya Eza, drummer bandnya.
“Ada deh, mau tau aja”.
“Paling lamunin Dio”, ledek Satria. Sha-sha menoyer kepala Satra.
Tapi dalam hati Sha-sha tersenyum. Gak papa dong lamunin Dio, toh gue sama dia lagi dekat sekarang, batin Sha-sha. Dia tertawa pelan. Satria menoleh lagi.
“Kan senyum-senyum, pasti Dio itu”.
“Rese lo”. Tiba-tiba terdengar suara MC.
“Baik peserta selanjutnya dari tuan rumah sendiri, sambutlah Star Band…”. Penonton bertepuk tangan.
Festival band merayakan ulang tahun SMA Bunga Bangsa sedang berlangsung, sekarang adalah hari ketiga. Acara ini berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama adalah audisi band-band dari SMA Bunga Bangsa sendiri yang dimana 5 terbaik akan bertanding dengan band dari sekolah luar pada hari kedua dan ketiga. Dan band-band yang tepilih ada bandnya Dio, Zig-Zag band, band anak eklas XII yang merupakan juara 3 tahun lalu, d’Sytle band, band kelas XII lainya yang semua personilnya ceweknya, The Girls, band kelas X, Feyer band dan band Sha-sha, Star band.
Dan kini, Sha-sha vokalis, Satria gitaris, Dika bassis dan Eza drummer naik keatas panggung.
“Halooo Bunga Bangsaaa!! Happy birthday to my school, semoga sekolah ini tambah jaya dan lagu yang akan kami persembahkan untuk setiap cewek yang menunggu untuk ditembak sama gebetannya, enjoy guys”, kata Sha-sha yang disabut oleh histeris teman-temannya.
Sebenarnya lagu ini Sha-sha khususin buat Dio, maklum kedekatannya dengan bintang voli sekolah ini cukup lama, yaitu dari awal Sha-sha menjabat pengurus OSIS yang baru sampai sekarang dan Dio belum sama sekali menyatakan cintanya hingga Satria mengusulkan lagu ini untuk memancing reaksi Dio.
Dentingan gitar Satria menghipnotis penonton yang setengahnya cewek. Dio juga ada di depan panggung bersama bandnya menunggu gadis pujaannya menyanyi. Sementara Raya mengawasi setiap gerak-gerik Sha-sha dari samping panggung. Soalnya kata yang Sha-sha kasih tau bersifat ambigu. ‘Untuk yang lama menunggu gebetannya nembak’, cuhatkah Sha-sha?’
Band Sha-sha merupakan band terakhir yang tampil sore ini. Dan sekalian akan menutup acara dan menunggu siapa 3 band yang akan masuk babak final nanti malam. Terdengar suara merdu dari Sha-sha.
sudah lama ku menanti dirimu
tahu tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah
entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan
reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu
(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
(Vierra- Terlalu Lama)
Suara merdu dari seorang kapten tim putri sekolah, sekretaris OSIS dan salah satu gadis popular di sini membuat semakin banyak fans Sha-sha disini. Entah cewek dan tentunya para cowok. Sha-sha tersenyum setelah selesai bernyanyi,
“Thanks buat kalian guys dan karena band gue band terakhir semoga kalian suka sama ending acara ulang tahun Bunga Bangsa, byee..”. kata Sha-sha.
Sekitar setengah jam, juri dan panitia yang mengurus band menaiki panggung. Sha-sha berdiri disamping panggung bersama Raya dan yang lalinnya. Walau peserta band tetep saja tugas utama Sha-sha adalah panitia.
“Bagus banget suara elo Sha”, puji Fia.
“Thanks Fi, gue deg deg kan nih”.
“Berdoa aja semoga masuk yaa”. Sha-sha tersenyum sambil mengangguk.
“Diem bentar bisa? Juri mau ngomong tuh”, kata Raya dingin. Sha-sha yang tadinya tersenyum langsung cemberut,
“Iya iya”, katanya sebel. Fia tertawa.
Raya melirik Sha-sha. Menghela napas.
“Baik, setelah melihat hasil selama audisi 2 hari band ekstren ulang tahun SMA Bunga Bangsa, telah didapan 3 band terbaik dan band itu adalah urutan nomor 3 band dari SMA 5 Bandung, d’rokk, urutan kedua adalah band dari SMA Bunga Bangsa, Zig Zig dan urutan pertama adalah…..”. hening sejenak.
“d’sytle dari SMA Bunga Bangsa”. Penonton pun bertepuk tangan. Sha-sha kalah tapi no problem baginya meramaikan acara ini adalah segalanya. Yang membuat ia senang adalah bandnya Dio masuk dan tentunya nanti malam ia akan menonton Dio dengan semangat.
Acara sore itu selesai. Penonton pun bersiap-siap untuk nanti malam, malam puncak pesta ulang tahun SMA Bunag Bangsa. Raya membariskan panitia didepan panggung ada arahan untuk acara puncak nanti malam.
“Baik, acara kita sudah berjalan 70 persen, nanti malam adalah puncaknya, jangan sampai acara yang sudah kita rancang dari bulan lalu itu gagal, saya mau kalian fokus untuk nanti malam, mengerti?”.
“Siap iyaa…”.
“Bagus, Lida tiket untuk nanti malam gimana?”.
“Sudah Ray, ada di RO, nanti ada 4 orang cewek yang jaga didepan gerbang untuk jualin tiket”.
“Keamanan gimana Dimas?”.
“Siap juga Ray, ada 5 nanti yang jaga digerbang, polisi juga stand bye, pagar betis akan dipasang sebentar lagi”.
“Okey sepertinya persiapa sudah siap, oh ya Sha-sha gimana piagam?”.
Sha-sha yang dipanggil namanya gak mendengar, matanya celingak-celinguk mencari sosok Dio yang dari tadi gak ia lihat. Padahal tadi pas Sha-sha nyanyi Dio ada bersama teman-temannya, tapi sekarang mana? Padahal Sha-sha ingin ngucapin selamat.
“Raisha Claudia, denger gue gak?”, bentak Raya.
Sha-sha yang kaget langsung reflex menoleh.
“Apa Ray?”. Raya mendengus.
“Gue Tanya piagam gimana?”.
“Eh itu, hhmm siap kok tinggal liat siapa aja juaranya entar gue sama Ika yang buat”.
“Bagus, sekarang kalian bisa pulang dan balik lagi sebelum Magrib, panitia sudah stay disini sebelum Magrib jangan ada yang telat”.
“Siap iyaaa…”.
Setelah selesai pengumuman dari Raya, Sha-sha pun mencari Dio, sekedar menyapa, mengucapkan selamat atau apalah yang pasti ia ingin Dio tahu maksud dari lagu yang tadi Sha-sha nyanyikan namun hasilnya nihil. Sepertinya Dio sudah balik sama teman bandnya dan bersiap-siap untuk malam nanti. Dengan perasaan kecewa Sha-sha menghampiri mobil Honda Jazz merahnya dan menjalankan menuju rumahnya.
Panitia OSIS tahun ini benar-benar menyiapkan yang terbaik untuk acara ulang tahun SMA Bunga Bangsa ini. Sekolah dnegan luas 1 hektar ini dipenuhi oleh siswa-siswi dari berbagai sekolah. Selain ada acara final band, malam ini diadakan bazaar, pameran fotografi dan madding. Mungkin sekitar 4000 pelajar ada disini.
Saat ini focus sedang ke panggung, band tuan rumah, Zig Zag akan menjadi penutup malam ini, mereka sedang melakukan check sounds sebentar. Dio sebagai vokalis mulai berbicara.
“Malam all…”, sapanya. Sha-sha hanya melihat Dio dari samping ruang OSIS. Dia merasa kecewa sama Dio. Setelah pulang tadi, Sha-sha sudah beberapa kali ngeBBM Dio namun cuma deliv, di sms gak dibalas, karena jengkel, jadinya ia hanya menonton dari ruang OSIS.
“Gak ke depan Sha”, Tanya Raya yang akan mau masuk keruang OSIS.
“Gak sini aja, ”.
“Ya udah”. Raya berjalan ke masuk ke RO dan menutup pintu sementara Sha-sha berdiam, menatap Dio cs dalam diam.
“Malam ini adalah malam special bagi SMA Bunga Bangsa dan gue…”. Dio diam sejenak, ia menatap Sha-sha yang lagi ngobrol sama beberapa temannya yang ia suruh menyeret gadis pujaannya itu ke depan panggung dan see Sha-sha mau. Dio tersenyum. sengaja ia membuat jengkel cewek pujaannya itu supaya malam ini tambah supprise.
“Malam ini buat gue begitu special karena mala mini gue akan mengutarakan perasaan gue buat seseorang yang special”, sambungnya. Penonton hsiteris, mulai menerka-nerka siapa gadis beruntung yang akan menjadi pacar kapten tim voli sekoalh ini.
“Gadis itu adalah….. Raisha Claudia, lagu Dealova ini buat elo Sha”.
Sha-sha melotot, antara terpukau dan kaget dengan pengakuan Dio. Beberapa temannya menyenggolnya sambil tertawa sementara dia cuma bisa diam menatap Dio yang juga menatapnya.
Jaid karena ini dia buat gue jengkel? Haha terus nyuruh temannya agar narik gue ke depan panggung? Astaga Dio, batin Sha-sha.
aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
oh karena hati tlah letih
aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
oh bayangmu seakan-akan
kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada
hanya dirimu yg bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi
selalu ada, kau selalu ada
selalu ada, kau selalu ada
(Once – Dealova)
Dio menyanyikan lagu ini sambil menatap Sha-sha dan Sha-sha pun menatap balik. Kedua seperti tahu apa jawaban akan pertanyaan masing-masing itu.
Selesai bernyanyi, Dio langsung turun dan mendatangi Sha-sha dan cowok bertinggi 170 cm itu langsung memeluk Sha-sha, mendekapnya kedalam pelukannya. Orang –orang yang ada disana bertepuk tangan.
Sha-sha pun membenamkan kepalanya di dada Dio.
“Gue sayang elo Sha”, kata Dio.
Sha-sha tersenyum. “Gue juga Yo”.
Kebahagian Sha-sha dan Dio pun mendapat senyuman dari semua yang hadir, tua muda, anak Bunga Bangsa atau tidak, guru dan yang lain mereka bertepuk tangan, apalagi band bintang tamu yang hadir menyanyikan lagu Kyla yang berjudul Beautiful Days.
Namun sepertinya tidak bagi orang itu, walau duduk disangsananya sebagai ketua OSIS SMA ini, cowok itu seperti merasa ada yang salah dalam mala mini. Seharusnya ia bahagia bisa menjadi ketua OSIS dimana proker ulang tahun sekolahnya mendapat applause yang meriah dari semua orang, mendapat puluhan pujian baik dair guru maupun dari siswa sekolah ini atau luar tapi malam ini, diruang OSISnya, ia merasa gagal. Gagal mendapatkan salah satu targetnya, bukan proker, bukan juga tujuannya menjadi ketua tapi hati seseorang, hati gadis pujaannya, hati sekretarisnya, hati kapten tim bakset sekolah ini, walau prokernya berjalan meriah dan sukses namun entah kenapa ia merasa sangat gagal malam ini.
###
Walau pesta perayaan sekolah sudah terjadi 2 minggu yang lalu, kebahagian Sha-sha seperti selalu bersamanya. Dio begitu manis kepadanya, selalu bercerita segala hal yang baru kepadanya, Dio pun memanjakan Sha-sha. Sha-sha begitu senang. Dio yang cool, Dio yang baik, Dio yang selalu membuat Sha-sha bahagia selama hubungan mereka.
“Mau jalan gak nanti malam?, Tanya Dio suatu sore saat mereka latihan basket dan voli.
“Ayo kemana?”.
“Terserah elo Sha, gue anter deh”, kata Dio sambil mengacak-acak rambut Sha-sha.
“Ih so sweetnyaaa”, ledek Sha-sha. Dio tertawa. Gemes liat tingkah pacarnya ini.
“Mau gak nih?”, goda Dio.
“Mauuuuuu, habis latihan yaa?”.
“Loh masih latihan?”. Sha-sha mengangguk.
“Iyalah, kan mau DBL”, kata Sha-sha. Dio mengangguk.
“Sha-sha ayo main games”, teriak coach Lita.
“Iyaaa, bentar”. Sha-sha menoleh ke Dio. “Tunggu”.
“Okey cantik”. Mereka tersenyum. Sha-sha masuk lapangan.
Sebenarnya Dio sudah selesai latihan. Raya telah membuat jadwal voli dulu yang latihan baru basket jadi ya gini, Dio harus nunggu sang pacar latihan. Dia melirik Sha-sha yang sedang mendribble bola. Dengan jersey merah andalannya, Sha-sha sore itu tampil cantik, rambutnya yang panjang ia ikat satu keatas, poninya ia biarkan, ketika berlari, rambutnya yang indah bergerak menambah cantik pesonanya, apalagi ketika Sha-sha melakukan shooting dan masuk. Tepuk tangan beberapa siswa yang belum pulang sekolah membuat sore itu Sha-sha menjadi perhatiaan khusus.
Dio tahu keunggulan pacarnya itu, jadi ia beruntung bisa mendapatkan cewek manis itu. Dan ia gak akan melepaskannya, apapun yang terjadi.
Namun ya itu, manusia hanya bisa berharap Tuhanlah yang menentukan. Suatu pagi yang indah ketika lagi sarapan, Dio mendapatkan kabar yang membuat ia harus melepaskan cewek pujaannya itu. Dio sama sekali gak punya cara untuk berusaha menjaga hubungannya yang baru sebentar ini. Dan ia pun pasrah.
###
Tugasnya dalam pesta ulang tahun sekolah telah selesai. Badannya pun terasa lepas akibat proker OSIS yang menghabiskan puluhan juta dana namun dibalik kerja keras serta tetes keringat panitia, proker mereka mendapat appalause yang snagat meriah dari sekolah dan seluruh yang menonton acara malam puncak itu. Band Dio menjadi juara 1 disusul d”Style dan band dari SMA 5 Bandung itu.
Setelah kepanitian ditutup seorang Sha-sha juga harus kembali merapikan jadwal belajarnya. Karena selama seminggu terakhir mendekati hari H ultah sekolah ia dan beberapa panitia penting mendapatkan dispen dari sekolah untuk tidak masuk kelas. Tapi walau begitu mereka harus tetep belajar dan mengejar guru untuk minta tugas baru.
Dampaknya Sha-sha jarang makan, apalagi persiapan DBL basket juga telah menunggunya dan sebagai kapten ia harus tampil habis-habisan. Bulan ini pun tenaga Sha-sha sudah terkuras habis dan membuatnya kecapean.
Belum lagi Sha-sha harus ikut tes ketiga AFS dan tes tersebut adalah dinamika kelompok, Sha-sha selalu tidur larut malam dan bangun shubuh untuk mengerjakan tugas tes ketiga ini. Dan paginya Sha-sha harus belajar, mengikuti beberapa ulangan yang tertunda dan sorenya ia harus latihan basket.
Untunglah Dio selalu berada disampingnya, menjaganya, memberinya support yang penting, selalu memerhatikannya, menyuruhnya makan, Sha-sha begitu senang bisa mempunyai seorang pacar seperti Dio, apalagi 2 minggu lagi adalah pesta ulang tahunnya yang ke 17 dan Sha-sha ingin hari itu begitu special baginya.
Namun itu semua cerita lama, sejak kapan, Sha-sha tak tahu persis, mungkin karena kesibukkannya mengejar materi pelajaran dan tugas laiinya, Sha-sha sudah lupa kapan Dio terakhir kali sms, kapan Dio terakhir telpon atau bahkan kapan ia melihat Dio disekolah? Sha-sha lupa itu dan baru menyadari beberapa hari ini.
Dengan panic karena salah satu temannya membahas pacarnya, Sha-sha pun sadar sudah lama ia tak melihat sang kekasih.
“Iiih nyebelin banget deh si Leo tiu, dasar anak keci;”, maki Monic.
“Salah elo sendiri, jadian sama brondong haha”, sindir Mita.
“Tapi kan dia hitam manis Mit, anak bola juga ih lucu tauuu”, ucap gemes Monic.
Yang lain tertawa dan disitulah Sha-sha sadar.
Dio kemana ya? Lama banget gue gak ketemu sama dia, batin Sha-sha. Dia pun beranjak kekelas XI IPA C, kelas Dio.
Sha-sha celingak-celinguk mencari sosok tinggi yang berhasil merebut hatinya. Tapi sayang, cowok tnggi itu gak ada. Sha-sha menghela napas.
“Sha? Cari siapa?”, Tanya seseorang. Sha-sha menoleh. Didepannya terlihat Vero, rekan se timnya di basket.
“Eh elo Ver, liat Dio gak?”. Mendengar nama Dio, Vero terkejut.
“Loh? Elo gak tau Sha?”. Sha-sha menyipitkan mata, ada perasaan janggal saat ia mendengar ucapan center tim basketnya ini.
“Maksud elo Ver?”. Vero menghembuskan napas. Bingung dan takut mengatakan kepada kaptennya ini.
“Dio … hhmm Dio sejak seminggu yang lalu pindah sekolah, ke….. Australia”. Dan sudah bisa diduga. Tubuh Sha-sha pun melemah. Untung Vero menyangganya. Air matanya tumpah dan gak mau Sha-sha jadi bahan gossip semua orang, Vero membawa Sha-sha keruang OSIS dan memeluknya.
Sha-sha menangis. Entah kenapa ia harus menangis, dia pacar Dio kenapa dia gak tahu kalau sang pacar sudah pindah? Kenapa gak ada yang ngasih tau dia? Kenapaaa? Itulah pertanyaan yang ada dalam diri Sha-sha.
Saat ia seperti ini, saat dirinya butuh seseorang untuk menyadarkan pundak, Dio malah meninggalkannya, bahkan tanpa pamit dan tanpa salam perpisahan. Apakah Dio akan menggantung dirinya? Sha-sha terus menangis dalam pelukan Vero.
“Sha sudah Sha, jangan nangisnya? Gue tau elo sedih tapi elo harus kuat?’, hibur Vero.
“Tapi kenapa Ver? Kenapa hiks hiks… kenapa Dio gini? Dia yang bilang sayang sama gue, tapi kenapa dia yang pergi gitu aja? Hah? Hiks hiks…”. Vero gak bisa jawab pertanyaan Sha-sha karena ia sendiri pun bingung, karena cuma Dio yang bisa menjawabnya.
Dan disaat itulah pintu ruang OSIS terbuka, memperlihatkan sosok tinggi yang bersimbah keringat dengan bola basket ditanganya.
Raya terkesiap melihat Sha-sha menangis dalam pelukan Vero, sepertinya Vero sedang menghibur Sha-sha, tapi kenapa Sha-sha menangis, Raya gak tahu.
Semenjak Sha-sha jadian sama Dio, Raya sama sekali gak pernah berbicara lagi dengan Sha-sha. Sepertinya gadis manis itu sangat menyukai status barunya sebagai pacar Gladio Setiawan. Tapi kenapa sekarang dia menangis? Padahal wajah manisnya itu selalu tersenyum ketika sebulan terakhii, tentu bersama Dio disampingnya. Kadang ada perasaan aneh yang menjalar dalam diri Raya saat ia melihat Dio memegang tangan Sha-sha , merangkulnya menuju mobil Dio atau sekedar bertemu. Dio selalu membuat gadis ini tersenyum. bahkan Raya ingat ketika mereka berdua duduk bersama di pinggir lapangan basket. Cara Dio membuat Sha-sha tertawa begitu mesra dan karena itu juga Raya menjadi aneh saat bermain basket, beberapa lemparannya gak masuk bahkan sebagai kapten ia melakukan kesalahan yang dasar.
Raya memberi isyarat kepada Vero. Raya melempar kertas dan kertas itu mendarat dikepala Vero. Vero mendongkak.
Raya menggerakan mulutnya. Vero menyipit membaca kata yang akan diucapkan Raya.
“Kenapa? Sha-sha kenapa gitu?”. Raya mengangguk.
“Dia menangis”.
Terlihat mulut Raya membentuk huruf O.
“Alasannya?”, Tanya Raya lagi.
“Tanya sendiri”, balas Vero. Raya mendengus. Dan ia pun meninggalkan ruang OSIS. Vero tertawa.
“Kenapa lo?”, Tanya Sha-sha heran. Dia nangis, eh Vero ketawa.
“Sudah lo nangisnya?”. Sha-sha mencubit Vero.
“Auuw sakit Sha”.
“Rese lo”.
“Gimana perasaan elo?”.
“Buruk”. Sha-sha mengambil tissue dan menghapus butiran air matanya. Matanya bengkak dan suaranya serak.
“Gue kerumah elo ya nanti?”. Sha-sha mengangguk.
###
Gue salah Sha, gue minta maaf, gue tau yang gue lakuin sudah ngebuat elo sakit hati, tapi kalo gue kasih tau ini secara langsung gue takut gue bakal ngebuat elo lebih sakit, gue harus ikut bokap ke Australi, bokap pindah kesana secara mendadak, awalnya gue nolak tapi bokap bakal masukin gue ke sekolah dengan tim voli terbaiknya, elo kan tau Sha, voli adalah hidup gue dan gue gak bakal pernah melepaskan impian gue itu, maaf Sha, mungkin gue egois tapi ini impian gue, seperti elo dan basket lo, maaf Sha
Elo boleh benci sama gue, karena gue emang patut dipersalahkan, maaf Sha, gue bener-bener minta maaf. Gue juga akan terima kalo elo gak bakal maafin gue, gue terima. Maaf Sha sekali lagi dan dengan elo baca surat gue ini, maaf kita harus putus, elo berhak dapat cowok yang lebih baik dari gue, selamat tinggal Raisha
Bye,
Dio
Air mata Sha-sha kembali jatuh, bahkan ini jauh lebih deras dibanding saat ia untuk pertama kali tahu kalo Dio pindah sekeloh.
Seminggu sebelum Sha-sha tahu kalau Dio pindah dari Vero, Dio kerumahnya, malam untuk memberikan surat ini karena dia gak bisa ngomong langsung. Dio menitipkan surat ini kepada kak Diaz dan hasilnya sebuah tonjokan dari kakaknya itu buat orang yang sudah membuat nangis adik semata wayangnya.
“Sudah Sha jangan nangis lagi”, hibur kak Diaz.
“Kenapa kakak, gak ngasih tau gue dari awal, kenapa gue harus tau dari Vero?”, katanya sambil segegukan.
Diaz membelai rambut adiknya ini.
“Elo sadar gak elo sibuk banget semingguan ini? Buat makan aja elo harus dibentak gimana gue mau ngasih tau kabar gini”. Sha-sha membenamkan kepalanya ke dada sang kakak.
“Sudah Sha, cowok banyak, mau siapa? Nanti kakak bantu deh, elo kan cantik, pintar, atlit basket pula kurang apa seorang Raisha Claudia? Jangan nangis lagi yaa? Gue gak mau liat adik gue yang pecinta merah jadi gini”.
“hhmmm…”.
“Ayolah Sha, c’mon….”.
“Hmmm….”.
“Aduh Dio pake pelet apa sih sampe elo kayak gini?”. Sha-sha langsung mencubit lengan sang kakak.
“Auuw sakit tauu…”.
Sha-sha gak membalasnya. Dia larut dalam kesedihannya.
“Okey sudah mellow mellownya sekarang life must go on, ingat elo bisa dapatkan cowok berkali-kali lipat lebih dari Dio okey? Cowok banyak Sha, tinggal lirik pasti banyak yang ngantri, ya? Sha? Sha-sha?”. Diaz mengangkat wajah Sha-sha dan seeprti yang ia duga, Sha-sha tertidur.
“Astaga gue daritadi ngomel sendiri ternyata”, sebel Diaz.
Lalu Diaz merebahkan Sha-sha dikasurnya, ditutupinya tubuh Sha-sha dalam selimut merah miliknya. Dikecupnya kening adik semata wayangnay itu. Di pelankannya AC dan sebelum keluar kamar, Diaz memantikan lampu.
“Selamat tidur my little sister”, katanya.
Sha-sha membuka mata. Ia tersenyum samar.
“Selamat tidur kakak gue yang baik”, katanya pelan. Lalu kembali tertidur.
###
Hari ulang tahun adalah hari yang ditunggu-tunggu setiap anak di dunia. Merayakan bertambahnya 1 umur kita, menandakan kedewasan dan meninggalkan sifat kecil. Apalagi jika seorang remaja menginjak umur tujuh belas tahun.
Sweet seventeen, banyak yang bilang itu adalah angka terbaik menuju kedewasaan, setiap anak pun menantikan saat dirinya menginjak umur 17 tahun. Angka keramat dengan banyak cobaan yang harus dijalani.
Besok tanggal 28 Desember dan Sha-sha akan genap berusia 17 tahun. Dihari yang paling ia nantikan itu tidak aka nada Dio, cowok yang berhasil menjadi pacar pertamanya disisinya, tak ada senyum dan pelukan dari cowok yang juga berhasil mematahkan hatinya.
Untunglah, Sha-sha masih punya teman-temannya yang mensupportnya. Teman-temannya yang menyanyanginya. Sha-sha gembira walau ia kehilangan seorang Dio, toh ia punya sejuta sahabat.
Ulang tahun Sha-sha akan digelar disalah satu kafe di daerah Lembang Bandung. Sha-sha bahkan turun tangan sendiri untuk mengatur pesta ulang tahunnya. Dibantu Desy, Felisa, dan Nia. Sha-sha mendesai, kue, undangan , ruangan dan lain-lain berempat bersama sahabatnya.
“Kue gimana Sha?”, Tanya Nia.
“Gue pesen di Troy Bakery, temenin ya Ya?”. Nia mengangguk.
“Eh eh gue dapat nih, konsep ruangan liat sini”, kata Felisa. Sha-sha dan Nia segera menuju Felisa yang sedang browsing.
“Baguuus Fel, warna merah yaa”, seru Sha-sha.
“Siap bos”.
“Undangannya gini gimana Sha? Lucu sih”. Sha-sha menuju tempat Desy yang sedang mendesain undangan.
“Haha lucu, imut gimana gitu”.
“Cielah narsis loh”. Mereka tertawa. Desy, Felisa dan Nia senang bahwa kenyataannya Sha-sha bisa tersenyum lagi dan melupakn sejenak sosok Dio.
###
Sha-sha melangkahkan kakinya menuju ruang OSIS. Di dalam pelukannya ada beberapa proposal yang harus ditanda tanganin Raya. Paskib SMA Bunga Bangsa akan mengadakan lomba ketangkasan baris berbaris dan Raya sebagai ketua OSIS sudah mengizinkan.
“Ehem..”, guman Sha-sha. Raya mengangkat kepala mendengar dehaman yang menganggu dia yang sedang mengetik.
“Apa?”.
“Tanda tangan gih, mau gue serahkan ke pak kepsek”. Raya menatap 14 proposal yang Sha-sha taruh di meja ketosnya.
“Sebanyak ini?”, katanya malas.
“Iyalah”.
“Gak kurang banyak nih?”.
“Gak usah protes, itu Firman sendiri yang ngasih, dia aja sama gue sudah tanda tangan, giliran elo gih sekarang”.
“Iya bawel”.
“Ih sudah protes ngatain lagi”, serang Sha-sha sebal. Raya mendelik.
“Uuh takut”. Raya tertawa.
Sha-sha mengamati Raya yang sedang tanda tangan di 14 proposalnya. Raya, ketua OSIS dan sekaligus kapten tim basket putra. Dulu sih Raya begitu nyebelin sampai-sampai dirinya malas untuk ngobrol tapi kenapa juga Raya begitu banyak fans disini, gak Desy, Felisa apalagi Nia adalah salah satu dari fans Raya, sepeninggalan Dio entah kenapa juga julukan the most wanted popular langsung jatuh ke tangan Raya.
Dio, ingat dia Sha-sha jadi sedih juga, sudah 3 minggu setelah Dio pergi, hati Sha-sha masih sakit menerima bahwa dia tidak bisa mempertahankan cinta pertamanya, apalagi Dio memakai alasan ‘impian’ dan menyamakan ‘impian Sha-sha dan impiannya’.
“Gue emang ganteng kok, gak usah segitunya ngeliatin gue”, ucap Raya tiba-tiba. Sha-sha meliriknya garang namun sayang Raya masih fokus menandatangani proposal yang sisa kurang lebih 8.
“Pede”.
“Haha gue gak pede kali, toh emang cuma gue disini, masa iya elo liatin foto SBY yang gak gerak-gerak itu, mustahil”, ucap Raya sambil setengah tertawa.
“Iih sumpah kenapa anak-anak pada milih elo jadi ketos sih”, sebel Sha-sha.
“Soalnya gue ganteng, gue pintar, gue baik, gue cool dan tentunya gue serba bisa, hhm apalagi ya?’. Kata Raya setelah menyelesaikan tandatangan proposalnya. Dia menaruh telunjuknya di dagu berupaya berpikir apalagi kelebihannya.
“Satu lagi, narsis”, jawab Sha-sha sambil tertawa. Dia mengumpulkan proposal dan akan membawa ke ruang kepsek.
“Gue atau elo yang narsis?”, sahut Raya berdiri.
“Gue cewek pantas narsis, nah elo cowok, atau elo bukan cowok”, kata Sha-sha polos. Raya melotot.
“Elo yaa..”. Raya maju mendekati Sha-sha dan siap memukul kepala Sha-sha pakai buku. Namun Sha-sha yang tahu langsung menghindar, sayang kakinya tersangkut meja dan berakibat tubuhnya oleng ke belakang, proposalnya jatuh.
Untunglah disaat yang tepat, sebelum tubuh proposionis Sha-sha menghantam lantai ruang OSIS sepasang tangan kokoh menahannya. Sha-sha menutup mata. Bersiap hal terburuk yang terjadi. Namun menyadari ada yang menyangganya, Sha-sha membuka mata. Dan dengan jarak yang sangat dekat, Sha-sha bisa melihat dengan jelas wajah seorang Raya Pamungkas.
Mata mereka bertemu, jantungnya mereka berdetak cepat dengan kecepatan extra, keringat menjatuhi wajah Raya, kedua tangannya yang menyangga Sha-sha membeku. Mereka berpose seperti ini untuk sekitar 5 menit sebelum Sha-sha menyadarinya dan mencoba berdiri, namun sayang, kakinya sepertinya terluka.
“Auuw..”, jerit Sha-sha. Raya yang telah kembali kesadarannya. Dia membantu Sha-sha duduk.
“Eh sorry Sha”, katanya sambil menghilangkan suara detak jantungnya yang nyaring.
“Gak papa”, kata Sha-sha dengan wajah merona merah. Mereka berdua salting.
“Sini gue bantuin kaki elo”. Sha-sha mengangguk.
Raya membuka kaos kaki Sha-sha untuk melihat lukanya. Dan emang iya, kakinya terluka dan memberikan warna merah pada kulitnya yang putih. Raya dengan pelan mengurut kaki Sha-sha tapi sayangnya mengakibatkan reflex gerakan Sha-sha.
“Auuw, sakit Ray”, jerit Sha-sha. Reflex yang dilakukan Sha-sha adalah menarik tangan kiri Raya yang menyangga dirinya duduk. Ditarik seperti itu, keseimbangan Raya oleng dan jatuh terhuyung kearah Sha-sha yang ada dihadapannya. Sha-sha yang kaget langsung menahan tubuh Raya dengan kedua tanganya. Raya juga menahan tubuhnya agar tak terbentur tubuh Sha-sha dengan kedua sikunya.
Mereka kembali saling dekat, lagi dan lagi mereka saling menatap satu sama lain. Dan seperti ada sesuatu yang mendorong Raya. Dia memajukan wajahnya ke wajah Sha-sha. Sha-sha yang merasa tulang-tulangnya lepas gak bisa berbuat banyak, dia hanya pasrah ketika Raya mengecup bibirnya.
###
Malam selasa, emang bukan malam yang dipenuhi suka cita atau apalah yang katanya remaja banget. Tapi malam ini adalah malam yang paling special bagi seorang Sha-sha. Malam ini dia akan merayakan pesta ulang tahunnya yang ke 17.
Malam ini Sha-sha tampil cantik. Drees berwarna merah selutut model balon memperlihatkan tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya di blow dengan diberi sebuah jepit berwarna merah. Apalagi high heels yang berhak 10 cm dengan warna merah membuat malam ini penampilan Sha-sha memukau.
Beberapa temannya sudah hadir pada malam ini, mereka bercipika-cipiki dengan Sha-sha selagi menyerahkan kado. Mungkin memang semua orang sudah tahu, karena bisa dilihat hampir semua bungkus kado berwarna merah semua.
Pesta malam ini bisa dibilang red party. Bisa dilihat dari dekorasi yang didominasi warna merah, kursi-kursi dengan penutup merah dan tentunya dekorasi mini panggung. Yang membuat takjub para tamu adalah kue ulang tahun Sha-sha yang 3 tingkat, berwarma merah dengan 17 lilin terpencar disekeliling kue. Dibagian tengah kue terdapat tulisah : RAISHA CLAUDIA dan puncka kue terdapat 2 lilin.
“Happy birthday Sha”, kata Bianca, sahabatnya dari kelas X ini memberi pelukan kepada Sha-sha.
“Thanks Ca, wah makasih kadonya”.
“Yes, you are welcome cantik”.
“Duduk ya selagi nunggu yang lain”.
“Okeey”.
Pesta ulang tahun Sha-sha dimulai. MC sudah membukanya dan sekarang sedang akan berlangsung games kecil-kecilan. Dimana Sha-sha menarik 3 pasangan temennya yang datang berpasangan untuk joget dengan balon ditengah mereka, temen-temen Sha-sha pun tertawa melihat aksi 3 pasangan itu, bagaimana tidak Bianca harus joget sama Ivan yang kaku banget, lebih parah Nia yang harus joget dengan Toby padahal dirinya kalah tinggi dan untunglah pasangan Dimas dan Vira menjadi pasangan yang hebat karena merekalah yang memenangkan acara malam ini. Dans ampailah diacara puncak.
“Malam ini adalah special dari teman kalian semua Sha-sha dan dimalam yang special ini juga, Sha-sha akan mempersilahkan 17 orang yang paling istimewa dalam hidupnya untuk menyalakan satu per satu lilin dari yang paling bawah sampai yang paling atas”. Terdengar suara kasak-kusuk dari arah bangku teman-teman Sha-sha yang datang. Sha-sha tersenyum dan disitulah matanya bertemu dengan mata Raya.
Wajah Sha-sha memerah mengingat jika apa yang terjadi dengan mereka saat terakhir ketemu. Sha-sha bisa membayangkan gimana malunya dia saat itu. Untunglah sepertinya Raya tidak juga ingin membahas adegan itu. Namun sehaj itu juga entah kenapa ia dan Raya menjadi dekat, sering BBMan, telponan bahkan smsan. Raya juga tak malu ingin mengantar Sha-sha pulang kerumah. Dan Sha-sha pun menikmati perhatian Raya, namun ia akan berhati-hati, kegagalannya bersama Dio sangat sulit ia lupakan.
Raya membalas tatapan Sha-sha sambil tersenyum, membuat rona merah kembali menghias wajahnya yang manis.
“Sha-sha sendiri yang akan memangggil 17 orang itu dan orang yang disebut namanya harapi maju dan menyalakan lilin, silahkan Sha”. Sha-sha menerima mic. Dia tersenyum.
“Yang pertama adalah tentunya sahabat gue Bianca”. Bianca tersenyum, ia melangkah mau dan menyalan lilin yang berada di tingkat paling bawah.
“Kedua sahabt gue lainya, Desy”. Desy bergerak maju.
“Ketiga si miss goissip, Felisa”. Felisa mengedipkan mata kepada Sha-sha. Sha-sha tertawa.
“Empat, kapten tim cheers, Nia”.
“Kelima, bendahara OSIS gue, Syavira”.
“Enam, rekan tim basket gue yang hebat, Vero”.
“Tujuh, wakil ketua OSIS gue yang keren Fikry”.
“Delapan kapten tim bola yang hebat, Alvin”.
“Sembilan sahabat gue sejak SD, Yoana”.
“Sepuluh rekan basket gue Anastasia”.
“Sebelas forward terbaik sekolah gue, Reni”.
“Dua belas, hhm Tya”. Sisa 5 lagi.
“Tiga belas buat yang sudah gue nangis, Ivana”. Ivana tertawa, sahabatnya yang dari SMP sengaja memberitahukan bahwa dirinya tidak akan datang yang ngebuat tadi sore Sha-sha nangis.
“Empat belas, ketua OSIS gue sekaligus kapten tim putra, Raya”. Saat Raya maju teman-teman Sha-sha pun meledek mereka. Apalagi angka 14 merupakan nomor punggung keduanya di kaos basket mereka masing-masing.
“Lima belas buat kakak gue tersayang, kak Diaz”. Kak Diaz tertawa, ia mencubit pelan hidung adiknya ini.
“Enam belas, papa gue yang paling paling paling gue sayangi”. Sha-sha mencium tangan sang papa.
“Dan tujuh belas, beliau adalah hidup gue, dunia gue dan segalanya bagi gue, mama gue terseyanng”. Sha-sha memeluk sang mama.
Dan 17 lilin sudah menyala, lampu kafe dimatikan.
“Baik Sha-sha sebelum tiup lilin sebaiknya kamu berdoa dulu”. Sha-sha mengangguk.
Sha-sha memejamkan mata. Tuhan, hari ini aku genap berusia 17 tahun, berkati segala hal yang telah aku lakukan, jadikan aku anak yang selalu membanggakan kedua orang tua ku, buatlah mimpi aku menjadi kenyataan, amin.
Sha-sha membuka mata dan ia melirik Raya yang juga menatapnya. Mereka tersenyum dan FUUHH!!! Sha-sha meniup satu-satu lilin dikuenya. Suara tepuk tangan membahana seantero ruangan kafe ini.
“Baiklah, saatnya potong kue”. Mama Sha-sha memberikan pisau dan Sha-sha memotong kuenya. Setelah itu ia menaruh kuenya di piring kecil. Ada 3 kue yang Sha-sha potong.
“Baik kue pertama untuk siapa Sha?”, Tanya MC.
“Untuk mama, papa dan kak Diaz tentunya”. Sha-sha memberikan kuenya ke mamanya dan mencium tangan mamanya, papanya dan memeluk kak Diaz.
“Dan kue kedua gue buat sahabat-sahabat gue, diwakilin sama Desy”, kata Sha-sha. Ia berjalan menuju meja Desy dan memberikan kue ini.
“Thanks Sha”. Sha-sha tersenyum.
“Ketiga?”, Tanya MC. Sha-sha tersenyum. dia mengambil kue dan berjalan kearah Raya.
“Buat OSIS yang diwakili Raya”, katanya sambil tersenyum.
“Thanks Sha”. Sha-sha mengangguk.
“Baiklah silahkan nikmati makanan yang telah disediakan dan jika ingin foto-foto dengan Sha-sha juga silahkan”. Dan pesta malam itu pun menjadi pesta yang sangat mengembirakan bagi semua, terutama Sha-sha.
Sha-sha berjalan kearah temen-temannya dan saat itulah Raya langsung berdiri dihadapan Sha-sha.
“Sha?”. Sha-sha canggung apalagi ketika jarak antara mereka cukup dekat.
“Hhhm ya Ray?”. Raya mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Buat elo”. Sha-sha menerima sebuah kado berukuran panjang.
“Apa ini?”. Raya menggaruk kepalnya yang gak gatal.
“Buka aja”. Sha-sha membuka kadonya dan terlihatlah sebuah benda yang manis.
“Kalung dengan liontin Negara Italia?”. Sha-sha memandang Raya.
“Eh iya, soalnya elo kan suka banget sama Negara itu”. Sha-sha tersenyum.
“Makasih Ray, bisa pasangkan?”. Raya mengangguk. lalu memasangkan kalung itu dileher Sha-sha.
“Cantik”.
“Thanks”.
Dan adegan mereka itu hampir ditonton setiap tamu yang hadir dan mereka pun serempak berteriak.
“CIIIIEEEEE…..”. Sha-sha dan Raya salting total karena gak sadar menjadi pusat perhatian semua orang.
###
Sha-sha memang punya pesona sendiri. Tak heran jika ia mampu mempesona setiap orang. Seperti sekarang.
Sekarang SMA Bunga Bangsa sedang ikut dalam pertandingan DBL, pertandingan basket yang di sponsori oleh salah satu merk motor ternama. Tim SMA Bunga Bangsa terbagi menjadi 2, tim putra dengan Raya sebagai kapten dan tim putri dengan Sha-sha sebagai kaptennya. Tim putra sudah lolos kebabak final DBL kali ini. Ini merupakan final pertama SMA Bunga Bangsa, mengingat tim ini sekarang dipenuhi anak-anak yang memiliki skil bagus.
Sekarang tim putri sedang berjuang melawan juara bertahan tim putri tahun lalu, SMA Pertiwi. Raya dan beberapa tim putra berdiri memberi semangat kepada tim putri dibelakang base mereka. Sementara disamping kanan lapangan, supporter SMA Bunga Bangsa memakai baju putih-putih. Mereka berteriak menyemangati Sha-sha dkk. Mereka bernyanyi lagu andalan mereka, supporter SMA Bunga Bangsa bisa dibilang selalu hadir dalam setiap pertandingan tim Bunga Bangsa, mau putra atau putri.
Ya supporter SMA Bunga Bangsa sejal pertama kali sekolah mereka turun berlaga memang selalu didukung penuh para supporternya, mereka malah selalu memakai baju dengan warna yang sama dna kebetulan hari ini mereka memakai baju putih sama dengan kaos yang dipakai sha-sha cs.
Mereka selalu memberikan selamat dengan selalu bernyanyi.
Tak kenal lelah
Pantang menyerah
Majulah Bunga Bangsa ku
Putih sejati takkan berhenti
Bunga Bangsa sampai mati
Oooo oooo ooooooo
Sha-sha mengelap keringatnya yang bercucuran, sekarang quarter 3 dan timnya masih ketinggalan point, gak banyak 8 poin tapi justru itu yang membuat Sha-sha cs kalang kabut. Sha-sha berkosentrasi pada ring. Sha-sha tadi dijatuhkan, sehingga mereka mendapatkan penalty. Sha-sha mengambil posisi. Supporter Bunga Bangsa diam, menunggu apakah bola yang dishoot sama Sha-sha masuk atau tidak. Dan Sha-sha menshoot. Masuk!! Supporter Bunga Bangsa teriak. Sha-sha seperti lega. Sisa 7 lagi. Dan quarter 3 habis.
Sha-sha cs kembali ke base pemain. Coach Dimas telah memberitahunya beberapa taktik. Sha-sha mengangguk paham dia akan duduk dibangku ujung yang kosong, dimana Raya berdiri dibelakangnya. Raya memberi Sha-sha minum, Sha-sha menerimanya.
“Makasih Ray”. Raya hanya mengangguk.
“Fokus Sha, jangan sampai lawan memancing emosi elo”. Sha-sha mengangguk. Akhir-akhir ini sikap Raya cukup baik padanya. Dan itu cukup membuat perasaan jengkel pada cowok tinggi ini menghilang perlahan.
Waktu habis. Sebelum Sha-sha berdiri masuk lapangan. Raya memanggilnya.
“Sha?”. Sha-sha menoleh. Raya tersenyum. “Good luck”, sambungnya. Sha-sha tersenyum.
Tim Bunga Bangsa berusaha memasukkan bola lebih banyak ke ring lawan. Keringat membasahi, jersey putih Bunga Bangsa yang dikenakan Sha-sha, Vero, Anas, Reni dan Tya, tim inti basket putri. Vero mendapatkan bola, ini peluang terakhir. Waktu sisa 2 menit kurang, supporter Bunga Bangsa diam, semua berdoa agar tim putri menang. Sementara supporter kubu lawan bersorak, bersiap menghitung mundur waktu.
Vero mendribbel bola, ia melewati pemain lawan nomor 3. Vero dengan cepat mengoper ke Tya, Tya menangkap dengan sempurna, sayang operan Vero terbaca, Tya dihadang 2 pemain. Cuma ada 2 pilihan, shooting sekarang atau bola direbut dan margin angka semakin jauh. Tya berpikir. Dan saat itu ia melihat Sha-sha sendirian, tanpa dijaga bagusnya Sha-sha berdiri diarea three point. Tanpa pikir panjang Tya melempar bola ke Sha-sha, pemain lawan yang tidak menduga segera menghampiri Sha-sha. Namun telat!! Sha-sha menerima bola dengan baik. Waktu sisa 45 detik kurang. Sekarang poin mereka tertinggal 2 point. Kalau bola ini masuk diarea three point mereka menang. Sha-sha berpikir sejenak, ternyata otaknya buntu. Seluruh nafsunya bilang, shooting sekarang. Sha-sha melihat kearah supporter, ada kak Diaz disana, dia menggenggam tangannya, kak Diaz berdoa, dia melihat teman-temannya, ada Alvin, Bianca, Desy dan yang lain, semua berdoa. Sha-sha melirik base timnya. Dia melihat Raya, dia ingin raya tau arti tatapannya. Dan seperti mendengar doa Sha-sha, Raya menatapnya balik. Dari tatapan Raya, Sha-sha punya satu kekuatan. Kekuatan yang diberikan oleh orang paling rese yang pernah ia temui, gak ada cara lain.
Sha-sha melompat dan melempar bola. Sebelumnya dia bergumam, bismilah masuk! Dan bola orange itu terbang lurus menuju ring lawan, Raya dan supporter Bunga Bangsa diam sesaat, waktu berjalan, 15 detik. Kapten tim lawan melompat, mencoba menangkap bola itu, namun sayang, lemparan Sha-sha cukup tinggi. Dan bola itu menyentuh ring, berputar-putra di bibir ring dan……..
Sha-sha menutup matanya, pasrah! Supporter tim Bunga Bangsa diam. Begitu pun dengan Raya cs dan Tya cs yang sudah melorot jatuh. Bola lemparan Sha-sha gagal. Dan suara tanda waktu habis berbunyi nyaring. Tim SMA Pertiwi melompat bahagia, mereka masuk final dan berpeluang mempertahankan gelar juara bertahan mereka.
Tubuh Sha-sha melorot jatuh ke lapangan, air matanya tumpah. Dia gagal membawa timnya masuk final seperti tahun lalu. Gagal membalaskan dendam kakak kelasnya tahun lalu. Sha-sha menangis. Vero memeluknya menyuruhnya bangun untuk keluar lapangan. Sha-sha mendongkak, melihat Vero. Wajah sahabatnya itu sama sepertinya, menangis. Mereka berdua jalan beriringan keluar lapangan tapi tiba-tiba Vero menghentikan langkahnya. Melihat Vero berhenti membuat Sha-sha mendongkak dan didepan mereka berdiri Raya.
“Biar gue temenin Sha-sha”, pintanya. Vero mengangguk. Lalu dia berjalan keluar lapangan sendiri. Raya melepas jaket yang ia pakai. Lalu ia pasangkan jaket berwarna hitam itu ke bahu Sha-sha, Sha-sha tidak memprotes, tubuhnya lemah akibat kekalahan ini. Lalu Raya merangkulnya menuju kamar ganti.
###
Tuhan tidak akan memberi hamba-Nya masalah yang berat jika hamba-Nya itu tidak mampu menyelesaikannya. Sha-sha cukup terpukul, kekalahan tim basket putrinya dengan ia sebagai kapten membuatnya bersedih. Sudah 3 hari yang lalu kekalahan timnya tapi sha-sha masih bersedih. Apalagi saat ia mengingat kejadian tadi pagi yang memukul telak hatinya yang tengah bersedih, satu lagi mimpinya musnah tadi pagi. Sha-sha duduk di atas tempat tidurnya. Matanya merah. Dia menangis dari pulang sekolah tadi sampai sekarang.
Senin pagi itu, tidak ada upacara bendera sebagaimana mestinya. Hari ini hanyalah membagian beberapa hadiah yang didapat selama beberapa bulan yang lalu. Sha-sha berdiri disamping barisan. Bersama tim basket SMA Bunga Bangsa dan beberapa siswa yang berhasil menjadi juara. Raya berdiri disampingnya. Memegang piala MVP (Most Valiabe Player). Juan dibelakang Raya memegang piala juara 1 tim putra SMA Bunga Bangsa di DBL tahun ini, gelar yang sangat di nanti-nantikan kepala sekolah dan seluruh penghuni sekolah ini. Sha-sha menarik napas, berarti satu-satu kabar buruk pagi ini adalah kekalahan tim putri di babak semi final. Raya menoleh melihat ekspresi sedih dimata Sha-sha.
“Kenapa Sha?, tanyanya pelan. Sha-sha menggeleng. Raya menghembuskan napas. Sejak kekalahan itu Sha-sha murung, bahkan Sha-sha tidak datang pada pertandingan final DBL sabtu kemarin. Raya cukup melihat Vero cs datang tanpa Sha-sha disampingnya. Kata Vero, Sha-sha gak enak badan dan akan menonton dari TV rumah saja. Semenjak itu pula, Raya mencoba dekat gadis manis ini. Namun sayang responnya hanya sedikit.
“Baiklah, inilah gelar yang telah lama kita idamkan, juara 1 basket putra di DBL tahun ini”, seru pak Adam. Seluruh siswa-siswi SMA Bunga Bangsa bertepuk tangan. Tim putra maju kedepan sambil membawa 2 piala. Sha-sha menatap mereka dengan nanar, seharusnya ia juga bisa memberikan gelar itu kepada sekolah ini. Air matanya nyaris tumpah tapi ia tahan.
“Selain juara 1 tim putra, SMA Bunga Bangsa juga meraih gelar mixed terbaik antara tim putra dan putri, lalu gelar juara 1 supporter terbaik dan lomba cheer juara 2”, seru pak Adam lagi. Vero dan tim putri maju sambil membawa piala mixed putra-putri terbaik, Nia membawa piala juara 2 cheer dan Danu sebagai ketua supporter membawa piala besar sebagai supporter terbaik DBL tahun ini.
Tim basket memberikan piala itu kepada pak Anwar, selaku kepala sekolah SMA Bunga Bangsa. Beliau menyalami kami satu-satu. Pak Anwar juga menerima berbagai piala dari semua lomba, ada olimpiade, debat bahasa inggris serta cerdas cermat, namun beliau paling banyak komentar soal DBL.
“Saya bangga sama kalian semua, berbondong-bondong menuju stadion untuk mendukung tim basket, benar-benar kebersamaan yang kuat diantara kalian. Tak heran kita menjadi supporter terbaik karena kita mendukung tim putra maupun tim putri”. Beliau tersenyum. Para murid bertepuk tangan.
“Dan ada lagi satu pengumuman buat kalian semua, berita ini baru saya dapat tadi pagi. Beri tepuk tangan kepada Savira Paramita dari kelas XI IPA A”. semua langsung bertepuk tangan. Sha-sha mendongkak menatap pak Anwar dan menoleh ke kiri. Disana Vira tersenyum penuh kebahagian, dia menggenggam sebuah piagam cukup besar namun dibalik. Dahi ku mengerut. Apa isinya?
Vira maju ke samping pak Anwar. dia memberikan piagam itu kepada pak Anwar. Lalu pak Anwar mulai kembali berbicara.
“Savira adalah satu-satunya siswa yang lolos dalam seleksi AFS, Savira akan berangkat ke salah satu negera Eropa, selama satu tahun kedepan mulai tahun ajaran baru nanti Savira akan berangkat ke Italia”, ucap pak Anwar sambil tersenyum. Vira juga tersenyum. Dan semua siswa-siswi SMA Bunga Bangsa bertepuk tangan, memberi selamat kepada Vira.
Sha-sha membeku ditempat. Dia menatap nanar tulisan dibalik piagam yang dipegang pak Anwar. Tubuhnya membatu seketika, wajahnya pucat pasi, tiba-tiba dunia menyempit disamping Sha-sha. Italia? Italia? Italia? Nama sebuah Negara yang menjadi impiannya terngiang-ngiang di otaknya berputar bagaikan halilintar ditengah arena fantasi. Otak Sha-sha tidak dapat mencerna setiap bait yang diucapkan pak Anwar. Otaknya tengah sibuk mencair udara disekitarnya namun gagal.
Jantungnya berdetak cepat, otaknya terkuras, keringat dingin membasahi seragam putih abu-abu miliknya, air matanya sedikit demi sedikit jatuh tak tertahankan.
Tak ada yang menyadari ada kehancuran perlahan di mata Sha-sha. Tubuh Sha-sha bergetar hebat. Tangannya menutup mulutnya. Menahan air matanya tumpah disini. Sha-sha merasa tubuhnya mati seketika mendengar bahwa Vira adalah satu-satu siswa SMA Bunga Bangsa yang lolos AFS dan akan pergi ke Italia. Berarti dirinya? Gagal? Sha-sha gagal? Dia gagal pergi ke Negara esotik itu.
Dan seperti menyadari kehancuran dalam sosok yang ia suka, Raya langsung menahan tubuh Sha-sha sebelum tubuh putih itu ambruk ke lapangan sekolah mereka yang keras. Raya memeluk pinggang Sha-sha dari belakang. Sha-sha tak berkomentar apa-apa melihat tangan kokoh itu menyangganya. Raya bisa merasakan tubuh itu bergetar hebat, keringat dingin jatuh. Sebelum Sha-sha bertambah parah, Raya membawa Sha-sha duduk di taman belakang.
“Sha, elo gak papa?”, Tanya pelan Raya. Tanpa Raya duga, Sha-sha memeluknya dan nangis di dalam dekapan Raya.
Air mata Sha-sha jatuh mengingat kejadian tadi pagi. Hancur sudah impiannya ke Negara Italia. Hancur sudah harapan terbesarnya. Hancur sudah segala kegiatan yang akan ia lakukan jika dinegara itu. Sha-sha menatap kesamping tubuhnya. Terdapat sebuah kardus berwarna merah. Sha-sha mengeluarkan satu per satu barang-barang didalamnya.
Ada sebuah majalah, kaos sepakbola AC Milan dan timnas Italia, mobil mini Ferrari, motor Ducati merah milik Valentino Rossi, sebuah gelang dengan bendera Italia sebagai warna dasarnya, sebuah bendera Italia dalam bentuk mini, topi besar dengan warna bendera Italia dan sebuah buku sejarah, buku sejarah Italia. Semua benda-benda yang berada di lemari kacanya yang ditingkat 1, segala hal soal Italia. Segalanya telah berada dalam kotak itu.
Sha-sha menatapnya dengan sedih, tidak ada gunanya ia menyimpan semua benda ini. Impiannya bisa berangkat ke Negara yang memiliki menara Pisa pergi menghilang, tak ada semangat lagi dalam dirinya saat ini. Lalu dengan kasar ia kembalikan kedalam kotak dan memanggil bi Sri untuk menaruh kotak itu digudang.
Setelah bi Sri pergi, Sha-sha menangis sejadi-jadinya. Impian, impiannya melayang dalam sekejab, kehilangan sosok Dio, gelar juara basket putri yang ia nantikan dan bisa bersekolah di Italia selama setahun kandas. Terbang jauh dari genggamannya, padahal semua itu akan nyata sebentar lagi tapi sudah tak ada gunanya lagi.
###
Hari berganti hari, namun sifat ceria Sha-sha hilang. Diganti dengan sifat barunya yang pendiam. Sha-sha berubah. Dulunya yang murah senyum jadi sering diam, dulunya yang aktif jadi lesu. Semua menyadari perbedaan dalam diri Sha-sha. Semua termausk Raya.
Sha-sha memang tetep bermain basket walau kadang sedih jika sedang mendribble karena tahu-tahu matanya menatap kosong. Sha-sha juga tetep menjadi sekretaris yang cekatan, mengumpulkan berkas seperti sedia kala. Tapi raut expresi wajahnya sudha berbeda. Di mata Raya, Sha-sha yang dulu telah hilang. Sha-sha memang tidak pernah mengubris segala hal kali ini, dia merasa dalam dunianya sendiri. Raya merasa sedih dan hancur melihat cewek yang berhasil pelan-pelan masuk kedalam hatinya menjadi seperti ini. Raya sudah tahu betapa Sha-sha sangat menyukai basket dan tentunya Italia, kak Diaz kakak Sha-sha telah menceritakan bagaimana adiknya itu sangat jatuh hati pada dua hal itu. Raya ingin mengembalikan Sha-sha yang dulu dan sebuah ide muncul di otaknya.
Sebulan setelah menyadari beberapa impiannya lenyap, Sha-sha kembali menyibukkan diri dalam OSIS. 4 proker dilalui Sha-sha dengan hati teriris-iris. Apalagi ketika sedang akan memulai rapat salah satu rekannya bercanda dengan Vira membahas keberangkatannya ke Italia. Meminta oleh-oleh kaos seragam tim asal Seri A. Air matanya akan jatuh jika saja Raya tidak segera memulai rapat. Begitu pedih rasanya kehilangan satu-satunya kesempatan untuk bisa bersekolah di Negara favoritnya.
Pernah lagi dalam acara makan-makan ulang tahun Nia, Sha-sha juga tidak bisa menikmati acara dengan baik. Berawal dari foto-foto, Sha-sha ingin mengirim foto dirinya dari hape Vira ke hapenya dan Vira menyuruh agar Sha-sha mengirim sendiri dan betapa shocknya Sha-sha saat melihat wallpaper foto Vira, bendera Negara yang sangat ia idolakan. Vira kembali menekan rasa sakitnya berkali-kali. Pedih saat membayangkan orang lain lah yang akan kesana, bukan dirinya.
Bentar lagi Sha-sha akan menyerahkan jabatannya kepada adik kelas. Dia sudah membuat LPJ untuk masa bakti tahunnya. ia sendirian di ruang OSIS tiba-tiba ada ketukan pintu. Sha-sha menoleh dan melihat bu Agustina, sekretaris sekolah didepan pintu.
“Ya bu ada apa?”. Sha-sha berdiri.
“Aduh begini Sha, ini tadi yang namanya Savira minta surat dispen tapi orangnya entah kemana gitu, ibu titip kamu ya? Kan Savira anak OSIS”.
“Oh iya bu, nanti saya kaish tahu Vira”.
“Baiklah kalau gitu, ibu permisi ya?”.
“Iya bu”. Bu Agustina keluar.
Sha-sha menatap surat dalam amplop ini. Apa isinya? Batinnya. Karena penasaran Sha-sha membuka amplop surat itu dan membacanya dan detik itu juga Sha-sha membeku ditempat.
Itu adalah surat dispensasi Vira untuk….. ke Italia selama setahun. Tubuh Sha-sha melorot ke lantai. Air matanya tumpah. Badannya gemetar.
“Kenapa Vira ya Allah, kenapa gak gue? Kenapa gak gue?”, katanya. Air matanya benar-benar jatuh. Menahan air mata setiap ada yang membahas kepergiaan Vira ke Italia menusuk jantungnya telak. Mungkin rasa sakit akibat ditingal Dio tidak separah saat ia gagal pergi ke Italia.
Tiba-tiba sebuah tangan berada dibahunya. Sha-sha mendongkak, dengan air mata yang masih mengalir ia tak sempat membuka suara.
Raya memeluknya. Menaruh surat itu diatas meja dan menarik Sha-sha dalam pelukannya.
“Sudah Sha..”
“Kenapa Vira Ray? Kenapa gak gue?”, kata Sha-sha sambil menangis. Raya mengelus pelan punggung Sha-sha.
“Suatu saat elo pasti kesana kok, gue yakin itu”. Habis itu tak ada pembiacaraan antara mereka. Sha-sha sibuk menenangkan diri dalam pelukan Raya dan Raya pun sepertinya tak ingin melepaskan Sha-sha.
“Gue sudah gak papa”, sahut Sha-sha tiba-tiba. Raya melepas pelukannya.
“Nha gitu dong, jangan nangis ya? Gue yakin suatu hari nanti elo pasti bisa ke Italia dan nonton kembarang gue tanding”.
“Kembaran elo? Siapa?’”. Raya tertawa.
“Rossi haha”. Sha-sha melongo dan beberapa detik kemudian sadar, Raya sedang ngelawak.
“Model gini kembaran idol ague? Astaga mimpi apa Rossi ya”. Mereka berdua lalu tertawa.
“Eh ngomong-ngomong LP elo mana Ray? Sudah selesai. Raya mengangguk. “Mana?”.
“Ketinggalan hehe”. Sha-sha mencibir.
“Kapan mau ngasih ke pak Anwar? Lusa dikumpul loh”. Raya kaget.
“Hah? Besok? Kok cepet banget? Aduh gimana, ya udah besok elo bantu gue yaa? Punya Dion sama Levi juga belum kan?”. Sha-sha mencelos. Dulu Raya ini begitu dingin, cekatan, eh sekarang kenapa gini? Jadi lola.
“Ya sudah, besok jemput gue jam 5 yaa”. Raya mengacungkan jempol.
Sha-sha sekarang berada di dalam mobil Raya.
“Rumah elo dipinggir kota ya?”. Raya hanya mengangguk. Dia menyetel lagu. lagu sederhana tapi mampu membuat Sha-sha terdiam. Menutup mata merasakan setiap syair yang keluar dari suara anak cowok pemenang salah stau acara di stasuin TV.
Aku pernah bermimpi
Menjadi bintang yang paling bersinar
Ku tak menyangka ini terjadi
Kegagalan yang pernah ku alami
Menjadikanku semakin kuat
Aku bersyukur jadi s’perti ini
Reff:
Kebahagiaan ini janganlah cepat berlalu
Karna tak mudah untuk menggapainya
Ku berjanji akan menjaga semua
Terima kasih Tuhan
Atas s’gala anugrah yang Kau beri kepadaku
Semoga ‘kan tetap abadi
Aku pernah berharap
Menjadi sesuatu yang berharga
Untuk semua orang
Yang menyanyangiku
(Debo Idola Cilik 2 – Bintang Yang Bersinar)
Sha-sha terdiam. Bisa Raya rasakan cewek disampingnya terdiam bahkan terhipnotis oleh setiap lirik dari lagu itu. Lalu mobil Raya berhenti di suatu taman. Sha-sha yang gak sadar masih terpaku lirik lagu itu. Dia tersadar setelah Raya membuka pintu mobil penumpang. Sha-sha menoleh.
“Kita sudah sampai Sha, ayo turun”. sha-sha turun. namun dia kaget bukan sebuah rumah tempat dia akan membuat LPJ dengan Raya tapi taman?
“Taman? Maksudnya apa Ray?”. Raya berbalik, menatap Sha-sha. Dan seakan terhipnotis dengan pandangan Raya yang begitu tajam tapi lembut. Raya maju, dia menggenggam kedua tangan Sha-sha. Sha-sha hanya diam. Membiarkan Raya menjelaskannya.
“Jangan sedih lagi yaa”, kata Raya pelan. Sha-sha kaget mendengar ucapan Raya.
“Ray elo?”. Raya tersenyum. Lalu dia menarik Sha-sha kedalam pelukannya. Sha-sha menangis disana. Berada dalam dekapan Raya selalu membuat Sha-sha nyaman. Pertama ketika pas di lapangan DBL, kedua pas di taman belakang dan sekarang disini, di taman yang jauh dari kota Bandung.
“Gue tau elo terpukul dengan kegagalan tim basket dan gak lolosnya AFS, tapi life must go on Sha, gue mau liat Sha-sha yang dulu, Sha-sha yang cuek sama orang, Sha-sha yang ceria yang selalu ngebuat semua orang tersenyum, gua mau liat Raisha Claudia yang membuat gue jatuh hati”. Ucapan terakhir Raya membuat Sha-sha kaget. Dia melepas pelukan Raya.
“Ray, elo gak..”. Sebelum selesai bicara, sebuah kecupan kecil mendarat di bibir mungil Sha-sha. Raya kini menatap Sha-sha yang matanya tertutup. Menyadari bibir Raya sudah lepas dari bibirnya, Sha-sha membuka mata. Dan ketika ia membuka mata, Raya tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Wajah Sha-sha seketika merah, malu. Raya tersenyum. Digenggamnya tangan Sha-sha.
“Raisha Claudia, will you my girlfriend?”. Sha-sha tersenyum, wajahnya menghangat. Sha-sha tidak menjawab tapi sebuah kecupan dipipi kiri Raya telah memberinya jawaban. Sontak Raya menarik Sha-sha dalam pelukannya.
“Akhirnya, gua jadian sama cewek yang tergila-gila sama Italia”. Sha-sha tertawa.
“Yee, akhirnya juga gue jadian sama cowok terese di dunia ini”. Mereka tertawa. Raya melepas pelukannya.
“Mau ke suatu tempat?”. Sha-sha mengangguk. Mereka berjalan dengan tangan sambil bergandengan. Ternyata Raya membawanya duduk dipinggir kolam taman. Raya melihat sebuah gitar dan mulai memetiknya. Mereka bernyanyi.
Kurasakan ku tlah jatuh cinta
Sejak pertama berjumpa
Senyumanmu yg selalu menghiasi hariku..
Kau ciptaanNya yg terindah..
Yang menghanyutkan haatiikuu..
Semua telah terjadi aku tak bisa berhenti memikirkan mu
Dan ku harapkan engkau tau..
Kau yg kuinginkan mesti tak ku ungkapkan..
Kau yg kudambakan.. ku impikan..
Aku jatuh cinta
Tkah jatuh cinta
Cinta kepadamu
Ku jatuh cinta..
I’m Fallin in Love..
I’m fallin in love with you…..
(J-roks- Fallin in Love)
Beberapa orang yang melihat mereka berdua bernyanyi memberi mereka uang, Raya dan Sha-sha hanya tertawa. Selesai bernyanyi mereka melihat uang-uang yang berserakan disekitar mereka.
“Mereka kira kita pengemis?”. Raya tertawa. “Emang kita kayak butuh uang?”.
“Loh emang kita butuh uang Sha”. Sha-sha bingung.
“Maksudnya?”.
“Iyaa kita butuh uang untuk bulan madu di Italia”, kata Raya lalu berlari. Sha-sha yang paham dikerjain langsung cemberut.
“RAYAAAA……”. Sha-sha mengejar Raya.
###
THE END
